Ekspor dan Investasi Lesu, Target Pertumbuhan Ekonomi Terancam Meleset

Pertumbuhan ekonomi kuartal II harus lebih baik untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,3% tahun ini.
Agatha Olivia Victoria
9 Mei 2019, 12:55
pertumbuhan ekonomi 2019 berisiko meleset
Arief Kamaludin|KATADATA
Pembangunan gedung perkantoran di Jakarta.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I hanya mencapai 5,07%, di bawah prediksi Bank Indonesia yaitu 5,2%. Meskipun, pencapaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I tahun lalu yang sebesar 5,06%. Ekonom menyebut realisasi ini membuat target pertumbuhan ekonomi 5,3% tahun ini sulit tercapai.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II harus lebih baik untuk mengejar target. Sebab, kuartal ini adalah kuartal harapan. “Jika kuartal kedua lebih rendah, akan sangat sulit nantinya di kuartal III dan IV," kata dia dalam diskusi di Jakarta, Rabu (9/5).

Meski begitu, Indef menilai permasalahan utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sebetulnya bukan angka 5,07%, melainkan kualitas pertumbuhan ekonomi yang memburuk. Industri pertanian, pengolahan, transportasi, pergudangan serta konstruksi mengalami pelemahan kinerja. Begitu juga dengan akselerator pertumbuhan ekonomi yaitu investasi dan ekspor.

(Baca: Tekstil jadi Andalan Pemerintah Tekan Defisit Dagang dengan Argentina)

Advertisement

Investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) turun 5,74% dibandingkan kuartal sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan tahunannya hanya mencapai 5,03%, melambat dari periode sama tahun lalu yang mencapai 7,94%. Pelemahan terutama terjadi untuk investasi kendaraan dan peralatan lainnya.

Di sisi lain, kinerja ekspor turun 7,04% dibandingkan kuartal sebelumnya. Secara tahunan, ekspor juga melemah 2,08%. Menurut Indef kondisi ini terjadi karena Industri di dalam negeri belum mampu bersaing dengan barang-barang produksi negara lain, terutama dalam bidang teknologi.

Ekonom INDEF Enny Sri Hartati berpendapat lemahnya investasi bukan karena investor tidak tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. "Tetapi karena pemerintah terlena pada data artificial dan investment grade yang telah diraih oleh Indonesia," ujarnya.

(Baca: Sri Mulyani: Investasi Akan Naik Setelah Pemilu)

Menurut dia, hasil Pemilu pasti akan berdampak pada pertumbuhan investasi. Namun, dampaknya tidak akan terlalu besar dikarenakan perubahan pemimpin tidak menjamin akan ada perubahan signifikan dalam kebijakan pemerintah.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait