Perang Dagang AS-Tiongkok Berpotensi Selesai, Rupiah Kuat 13.900/US$

Won Korea Selatan memimpin penguatan mata uang Asia pada Selasa (26/2) pagi. Won menguat 0,3%, diikuti rupee India dan yen Jepang 0,23%, serta rupiah 0,2%.
Martha Ruth Thertina
26 Februari 2019, 11:06
Rupiah
Donang Wahyu|KATADATA
Nilai tukar rupiah kembali bertengger di level 13.900 per dolar AS pada Selasa (26/2) pagi.

Kabar positif seputar negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menambah tenaga mata uang Asia. Nilai tukar rupiah terpantau cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak Senin (25/2) kemarin. Kini, rupiah telah kembali bertengger di level 13.900 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah ke kisaran 14.000-14.100 per dolar AS.  

Saat berita ini ditulis, Selasa (26/2) pagi, nilai tukar rupiah berada di level 13.989 per dolar AS atau menguat 0,20% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Ini artinya, rupiah telah menguat 0,49% dalam dua hari perdagangan. Rupiah menguat bersama beberapa mata uang Asia lainnya.  

Won Korea Selatan tercatat memimpin penguatan mata uang Asia pada Selasa pagi. Won menguat 0,30%, diikuti rupee India dan yen Jepang 0,23%. Dolar Taiwan, dolar Singapura dan peso Filipina juga menguat meski tipis kurang dari 0,02%. Di sisi lain, ringgit Malaysia, yuan Tiongkok, dan baht Thailand melemah tipis masing-masing 0,1%, 0,07%, dan 0,05%, setelah sehari sebelumnya menguat.

(Baca: Kicauan Trump Buat Rupiah dan Mata Uang Asia Bertenaga di Awal Pekan)

Advertisement

Sementara itu, indeks DXY masih landai di level 96. Indeks ini mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang mitra dagang utama Negeri Paman Sam. Sebelumnya, indeks dolar AS sempat menanjak ke level 97 pada pertengahan Februari lalu seiring berkembangnya kekhawatiran terkait negosiasi dagang AS-Tiongkok dan pertumbuhan ekonomi global.

Adapun nilai tukar sederet mata uang Asia cenderung menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengabarkan bahwa ada perkembangan substatif dalam pembicaraan dengan Tiongkok tentang berbagai isu struktural yang penting, termasuk perlindungan hak intelektual, transfer teknologi, agrikultur, jasa, dan nilai tukar. Seiring perkembangan tersebut, Trump menyatakan akan kembali menunda kenaikan tarif impor.

(Baca: Trump: Kesepakatan Dagang Akan Segera Ditandatangani dengan Xi Jinping)

“Saya akan menunda kenaikan tarif-tarif yang dijadwalkan pada 1 Maret. Dengan asumsi kedua belah pihak membuat perkembangan tambahan, kami akan merencanakan pertemuan antara Presiden Xi dengan diri saya di Mar-a-Lago untuk menyimpulkan kesepakatan. Akhir pekan yang sangat baik bagi AS dan Tiongkok!” kicau Trump dalam dalam Twitter miliknya.

Selama ini, perang dagang atau perang tarif impor AS-Tiongkok menjadi salah satu isu yang memicu kekhawatiran di pasar keuangan global sejak tahun lalu. Perang dagang dikhawatirkan bakal memengaruhi perdagangan internasional dan pertumbuhan ekonomi dunia. Ini turut memicu arus keluar dana asing dari pasar keuangan negara berkembang ke aset-aset safe haven, seperti dolar AS.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait