SBR005 Baru Laku Rp 2,1 Triliun, Kuota Penjualan Masih Banyak Tersisa

Spread yang ditawarkan kalah besar dibandingkan Saving Bonds Retail (SBR) seri sebelumnya.
Martha Ruth Thertina
21 Januari 2019, 14:25
Surat Berharga Negara SBR005
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Direktur Surat Utang Negara pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) ritel kepada investor individu secara daring, yakni SBR seri SBR005 dengan minimum pemesanan sebesar Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar melalui mitra distribusi.

Pemerintah membuka penawaran atas Surat Berharga Negara (SBN) berjenis Saving Bonds Retail Seri 005 atau SBR005 pada 10-24 Januari ini. Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), penjualan baru sebesar Rp 2,1 triliun hingga Senin (21/1) siang ini. Ini melebihi target indikatif yaitu sebesar Rp 2 triliun, namun masih di bawah target maksimal Rp 5 triliun.

Penjualan SBR005 juga tampak tak sekuat SBR004 yang dijual pada Agustus-September tahun lalu. SBR004 tercatat laku hingga Rp 7,32 triliun, jauh melebihi target awal para mitra distribusi yang sebesar Rp 1,49 triliun. Permintaan masyarakat yang tak sekuat untuk seri sebelumnya, tak bisa lepas dari tingkat bunga yang tak semenarik sebelumnya.

Tingkat bunga SBR004 ditetapkan sebesar bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-Day Reverse Repo Rate) ditambah spread 2,55%, sedangkan untuk SBR005 spread hanya 2,15%. Alhasil, bila mengacu pada pengumuman BI, tingkat bunga SBR004 untuk periode 21 Desember-20 Maret 2019 sudah mencapai 8,55%, sedangkan tingkat bunga SBR005 yang berlaku untuk tiga bulan pertama sebesar 8,15%.

(Baca: Pemerintah Tawarkan SBR005 dengan Bunga Minimal 8,15%, Kuota Rp 5 T)

Advertisement

Di sisi lain, berdasarkan hitung-hitungan Kemenkeu, secara netto (setelah dikurangi pajak 15%), maka return yang diterima investor sebesar 6,928%, sedikit lebih rendah dari suku bunga penjaminan terbaru yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yaitu sebesar 7%.

Merespons realisasi penjualan SBR005, Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting menjelaskan tujuan diluncurkannya SBN retail adalah untuk memberikan kesempatan individu warga negara Indonesia (WNI) untuk menikmati alternatif investasi yang ditawarkan pemerintah.

Sebab, investor retail relatif sulit mendapatkan instrumen reguler yang ditawarkan Pemerintah baik secara lelang maupun non-lelang. “Jadi untuk memudahkan investor retail mengakses instrumen investasi yang ditawarkan oleh pemerintah, maka di-desain instrumen khusus, sehingga di pasar perdana hanya investor retail saja yang boleh membelinya,” kata dia.

(Baca: Pemerintah Berencana Menjual 10 Surat Utang Retail Sepanjang 2019)

Jadi, menurut dia, yang terpenting dari penerbitan SBN retail adalah meningkatnya akses investor individu retail pada instrumen investasi yang ditawarkan Pemerintah dan basis investor retail meluas. Adapun sepanjang tahun ini, pemerintah merencanakan penjualan 10 SBN retail, diawali dengan penjualan SBR005 Januari ini.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait