Risiko Volatilitas Tinggi di Pasar Keuangan pada Paruh Pertama 2019

Rizky Alika
20 Desember 2018, 13:43
Pialang tengah memantau pergerakan pasar modal.
Arief Kamaludin|KATADATA

Gejolak di pasar keuangan kemungkinan masih akan berlanjut ke tahun depan. Hal itu seiring dengan banyaknya ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian global, utamanya terkait kebijakan moneter di negara maju dan perang dagang.

Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi volatilitas tinggi di pasar keuangan pada semester I 2019. "(Penyebab) yang paling utama divergensi kebijakan moneter yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Faktor ini akan berhenti atau mereda pada akhir semester 1," kata dalam Media Gathering UOB di Jakarta, Rabu (19/12).

Advertisement

Perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok juga akan memengaruhi pasar keuangan. Nilai tukar mata uang pun bakal terpengaruh. "US-Tiongkok sedang gencatan senjata untuk menemukan titik tengah pada 28 Februari. Jadi, kuartal pertama kita akan seru seperti roller coaster," ujarnya.

(Baca juga: Peluang Kembali Mengalirnya Dana Asing di Tengah “Melunaknya” The Fed)

Menurut dia, volatilitas akan terasa pada negara berkembang (emerging market) yang sektor eksternalnya lemah. Sektor eksternal yang dimaksud meliputi cadangan devisa dan neraca transaksi berjalan. Hal ini tergambar tahun ini di tengah melebarnya defisit transaksi berjalan Indonesia.  

Beberapa isu lainnya yang juga akan memengaruhi volatilitas di pasar keuangan yaitu harga minyak dunia dan perlambatan ekonomi global. Harga minyak dunia diperkirakan menurun karena kelebihan produksi. Sementara, perekonomian global diperkirakan melambat yang diindikasikan oleh permintaan energi yang turun.

Halaman:
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.

Artikel Terkait

Advertisement