Melemah 3 Hari Berturut-turut, Rupiah Kembali ke 14.500 per Dolar AS

Tekanan arus keluar dana asing kembali terjadi di pasar keuangan domestik.
Martha Ruth Thertina
6 Desember 2018, 11:24
Penukaran uang dolar AS
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berbalik melemah mulai Selasa (4/12) lalu. Rupiah yang sempat bertengger di kisaran Rp 14.200-an per dolar AS telah kembali ke kisaran Rp 14.500 per dolar AS pada perdagangan Kamis (6/12). Ini artinya, rupiah melemah sekitar Rp 300 dalam tiga hari perdagangan.

Rupiah memang tidak melemah sendirian, namun pelemahan rupiah termasuk yang paling cepat di antara mata uang Asia lainnya. Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp 14.482-14.540 per dolar AS. Saat berita ini ditulis, rupiah berada di level 14.540 per dolar AS atau melemah 0,95% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Pelemahan ini merupakan yang terbesar di antara mata uang Asia lainnya. Rupee India melemah 0,65%, won Korea Selatan 0,48%, yuan Tiongkok 0,29%, ringgit Malaysia 0,27%, dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing 0,24%, dan peso Filipina 0,19%. Sementara itu, yen Jepang justru terapresiasi 0,41%, begitu juga dolar Hong Kong 0,02%.

(Baca juga: Menko Darmin Harapkan Hot Money Bawa Rupiah Kembali ke 13.000)

Pelemahan beberapa hari belakangan ini dipicu oleh berkembangnya kembali kekhawatiran pelaku pasar terkait perang dagang AS-Tiongkok. Hal itu menyusul pernyataan keras Presiden Donald Trump di tengah negosiasi dagang yang tengah berlangsung dengan Tiongkok. Lewat akun Twitter miliknya, Trump menyatakan harapannya agar ada kesepatan yang adil dengan Negeri Tirai Bambu, namun siap menerapkan kebijakan tarif bila kesepakatan tidak terjadi.

“Saya seorang Tariff Man, ketika orang atau negara datang untuk menyerbu kekayaan besar Bangsa kita, saya ingin mereka membayar untuk hak istimewa tersebut. Itu akan selalu menjadi cara terbaik untuk memaksimalkan ekonomi kita. Kami sekarang mengambil miliaran dolar dari tarif. Buat Amerika kaya lagi,” kata Trump lewat akun Twitter miliknya, Selasa (4/12).

(Baca juga: Aliran Deras Dana Asing Buat Rupiah Menguat Hampir Rp 1.000 Sebulan)

Perang dagang dikhawatirkan bakal memukul ekonomi dunia. Maka itu, perkembangan seputar perang dagang turut memicu derasnya arus keluar dana asing dari pasar keuangan negara berkembang tahun ini. Dana mengalir ke aset yang dianggap aman atau safe haven seperti dolar AS. Alhasil, dolar AS menguat, dan mata uang lainnya, terutama mata uang negara berkembang tertekan.

Mengacu pada data RTI, tekanan keluar dana asing dari pasar keuangan domestik kembali terjadi setelah pernyataan keras Trump pada Selasa lalu. Investor asing membukukan penjualan bersih saham (net foreign sell) sebesar Rp 877,36 miliar pada Rabu (5/12) dan berlanjut pada Kamis (6/12) ini. Saat berita ini ditulis net foreign sell tercatat sebesar Rp 283,02 miliar. Seiring kondisi tersebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sejak Rabu (5/12).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait