Perang Dagang Memanas, Rupiah Melemah Paling Dalam di Asia

Pernyataan Presiden AS Donald Trump melalui akun Twitter miliknya membangunkan kembali kekhawatiran pelaku pasar akan keberlanjutan perang dagang.
Martha Ruth Thertina
5 Desember 2018, 12:43
Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Rupiah memimpin pelemahan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (5/12). Tekanan mata uang terjadi seiring kejatuhan indeks saham global imbas meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perang dagang AS dan Tiongkok.

Saat artikel ini ditulis, seluruh mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah melemah paling tajam 0,93% ke level 14.425 per dolar AS, diikuti won Korea Selatan 0,85%, peso Filipina 0,49%, yuan Tiongkok 0,46%, dolar Taiwan 0,42%, ringgit Malaysia 0,28%, rupee India 0,23%, yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing 0,22%, dan dolar Hong Kong 0,02%.

Pelemahan terjadi seiring jatuhnya indeks saham global. Sebelumnya indeks Dow Jones ditutup anjlok 3,1%, S&P 500 3,24%, Nasdaq Composite 3,8%, NYSE Composite 2,83%. Begitu juga indeks di kawasan Eropa. Euro Stoxx 50 Pr jatuh 0,8%, FTSE 100 0,56%, DAX 1,14%. Seiring kondisi tersebut indeks dolar AS kembali menguat. Indeks DXY kembali ke posisi tertingginya sejak Mei 2017.

(Baca juga: Cuitan Trump soal Perang Dagang Seret Kejatuhan Bursa Dunia dan IHSG)

Advertisement

Kejatuhan indeks merambat ke Asia. Saat berita ini ditulis, indeks Nikkei 225 dan Topix di Jepang turun masing-masing 0,44% dan 0,4%, Hang Seng di Hong Kong turun 1,54%, CSI 300 di Tiongkok turun 0,74%. Indeks negara berkembang Asia juga terpantau anjlok, tercermin dari MSCI Asia Pacific yang turun 0,89%. Secara khusus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,46%.  

Mencuatnya kembali kekhawatiran terkait perang dagang terjadi setelah Trump mengunggah pernyataan keras dalam akun Twitter miliknya. Trump berharap tercapai deal yang adil dengan Tiongkok, namun menyatakan kesiapannya menerapkan kebijakan tarif bila deal tersebut tidak terjadi. Pernyataan Trump tersebut membuat negosiasi dagang yang tengah berlangsung antar negosiator kedua negara terasa “mencekam”. Apalagi, negosiator yang dipilih AS terkenal sebagai tough negotiator alias negosiator yang sulit.

(Baca juga: Sri Mulyani: Kekompakan G20 Menguap, Indonesia Perlu Negosiator Unggul

“Saya seorang Tariff Man, ketika orang atau negara datang untuk menyerbu kekayaan besar Bangsa kita, saya ingin mereka membayar untuk hak istimewa tersebut. Itu akan selalu menjadi cara terbaik untuk memaksimalkan ekonomi kita. Kami sekarang mengambil miliaran dolar dari tarif. Buat Amerika kaya lagi,” kata Trump lewat akun Twitter miliknya, Selasa (4/12).

Perang dagang dikhawatirkan bakal memukul ekonomi dunia. Perkembangan perang dagang turut memicu derasnya arus keluar dana asing dari pasar keuangan negara berkembang, sepanjang tahun ini. Dana mengalir ke aset yang dianggap aman atau safe haven seperti dolar AS. Alhasil, dolar AS menguat, dan mata uang negara berkembang tertekan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait