Sri Mulyani Beri Sinyal Rem Impor Buat Meredam Pelemahan Kurs Rupiah

Pemerintah bakal mengevaluasi kebutuhan impor barang modal untuk proyek-proyek besar. Terbuka peluang koreksi pembangunan jangka pendek dan panjang.
Rizky Alika
3 Juli 2018, 19:28
Sri Mulyani
ARIEF KAMALUDIN I KATADATA

Tekanan terhadap kurs rupiah belum juga reda meskipun Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan tinggi suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik bagi investor asing. Merepons kondisi yang terjadi, pemerintah menyatakan bakal berupaya menekan defisit transaksi berjalan guna membantu meredam pelemahaan kurs rupiah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan upaya memperkecil defisit transaksi berjalan ditempuh dengan mendorong ekspor dan pariwisata, termasuk investasi. Hal ini sebagaimana telah beberapa kali disampaikan pemerintah maupun BI. Di luar itu, yang terbaru, ia memberikan sinyal kemungkinan mengerem impor.

“Secara selektif (pemerintah) akan meneliti siapa-siapa yang membutuhkan (impor), apakah itu dalam bentuk bahan baku atau barang modal dan apakah mereka (barang-barang impor tersebut) betul-betul strategis untuk menunjang kegiatan perekonomian di dalam negeri,” kata dia di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/7).

(Baca juga: Rupiah Tembus 14.400 per Dolar AS, Termasuk Mata Uang Terlemah)

Advertisement

Ia menjelaskan, pemerintah bakal melihat kemanfaatan impor bahan baku dalam menunjang produksi dan mengevaluasi kebutuhan impor barang modal untuk proyek-proyek besar terutama yang berhubungan dengan proyek pemerintah.

“Kami akan lihat konteksnya apa dan apakah proyek-proyek ini adalah proyek yang harus diselesaikan dan harus mengimpor barang modal,” ujarnya. Sejalan dengan itu, ia pun menyatakan adanya peluang mengoreksi pembangunan jangka pendek maupun jangka panjang.

BI memprediksi defisit transaksi berjalan berada di kisaran 2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang tahun ini. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut defisit transaksi berjalan bakal membesar dari US$ 5,5 miliar atau 2,15% terhadap PDB ke kisaran 2,5% terhadap PDB pada kuartal II lantaran adanya akselerasi impor. Kondisi tersebut bakal berlanjut pada dua kuartal berikutnya.

Namun, ia masih optimistis, defisit tidak akan menembus 3% terhadap PDB. "Second semester masih bisa di bawah 3% terhadap PDB," ucapnya dalam diskusi dengan wartawan di Gedung BI, Jakarta, Selasa (3/7). 

Adapun sepanjang Januari sampai Mei 2018, ia memaparkan, impor terkait dengan infrastruktur tercatat cukup besar mencapai US$ 4,1 miliar, kemudian impor alat-alat pertahanan US$ 1,1 miliar, sedangkan impor pangan tidak terlalu besar sekitar US$ 400 juta. "Kalau dikurangi untuk infrastruktur yang untuk membangun kapasitas ekonomi jangka panjang, transaksi berjalan kita surplus," ujarnya.

Mengacu pada yahoo finance, nilai tukar rupiah diperdagangkan pada rentang 14.365 – 14.450 per dolar AS. Sementara itu, kurs jual di bank tercatat lebih lemah di kisaran Rp 14.500-an per dolar AS. Meski nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS, Gubernur BI Perry Warjiyo meyakinkan masyarakat tidak perlu panik.

Ia menjelaskan selain merespons dengan kenaikan bunga acuan BI 7 Days Repo Rate, pihaknya juga melakukan intervensi ganda baik di pasar valuta asing (valas) maupun Surat Berharga Negara (SBN). “Hari ini pun (BI) melakukan intervensi,” kata dia.

Namun, ia juga menekankan, ukuran pelemahan harus dilihat secara relatif dengan mata uang negara lain. Intinya, jika mata uang negara lain melemah, rupiah tidak mungkin menguat sendirian. “Secara relatif depresiasi kurs masih managable sehingga tidak perlu menimbulkan kepanikan. Itu juga yang terjadi hari ini dan waktu lalu,” ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait