Aksi Jual Pukul Bursa Saham Negara Berkembang Asia, Rupiah Anjlok

Nilai tukar rupiah anjlok ke level 14.271 per dolar AS, terlemah sejak Oktober 2015.
Martha Ruth Thertina
28 Juni 2018, 13:45
bursa saham
Agung Samosir|KATADATA
bursa saham

Bursa saham negara-negara berkembang Asia terpukul pada Kamis (28/6). Hal itu imbas aksi jual oleh investor asing di tengah belum redanya kekhawatiran terkait kebijakan proteksionis pemerintahan Donald Trump. Investor asing tampaknya memilih penempatan dana dalam dolar AS.

Mengacu pada data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific anjlok 1,02%. Indeks tersebut menunjukkan kinerja pasar saham sembilan negara berkembang dan lima negara maju di regional Asia Pasifik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok paling dalam yaitu 1,64% ke level 5.692, diikuti PSEi – Philippine SE IDX 1,31% ke level 7.082. 

Seiring kondisi tersebut, mayoritas mata uang negara-negara berkembang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), termasuk rupiah. Pelemahan rupiah termasuk yang paling besar. Mengacu pada data kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level 14.271 per dolar AS, atau turun 0,76% dibandingkan hari sebelumnya. Level ini merupakan yang terlemah sejak Oktober 2015.

(Baca juga: Kurs Rupiah Merosot, Ekonom Serukan Kenaikan Bunga Acuan)

Advertisement

Mata uang negara Asia Pasifik lainnya juga melemah terhadap dolar AS. Bahkan, rupe India jatuh ke level terendahnya sepanjang masa. Dolar AS juga tercatat kian perkasa terhadap mata uang mitra dagang utamanya. Hal itu tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang kembali menanjak, menembus level 95.

Adapun di dalam negeri, gejolak indeks saham dan rupiah terjadi di tengah penyelenggaraan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan Bank Indonesia (BI) pada 28-29 Juni ini. Dalam berbagai kesempatan, Gubernur BI Perry Warjiyo kerap menyampaikan sikap kebijakan moneter yang antisipatif alias ahead of the curve di tengah banyaknya tantangan global.

(Baca juga: Kurs Rupiah Tersandera Dana Asing, Bunga Acuan Bisa Jadi Obat Mujarab?)

Hal tersebut mengisyaratkan kesiapan BI untuk mengerek lebih lanjut bunga acuan BI 7 Days Repo Rate. Sebelumnya, beberapa ekonom mengusulkan adanya kenaikan lebih lanjut BI 7 Days Repo Rate, setelah kenaikan total 0,5% ke level 4,75% pada Mei lalu. Hal itu untuk merespons kenaikan lebih lanjut bunga acuan AS dan peluang kenaikan agresif ke depan serta kebijakan proteksionis Trump.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono dan Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, misalnya, mengusulkan kenaikan 0,25% ke level 5%. Kenaikan tersebut diharapkan bisa memberi sentimen positif terhadap aset dalam rupiah dan meredam arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait