BPS Lihat Pelemahan Kurs Rupiah Belum Berdampak pada Inflasi Mei

“Biasanya depresiasi berpengaruh kalau terjadi lama, (misalnya) setahun dan depresiasinya dalam,” kata Kepala BPS Suhariyanto.
Rizky Alika
4 Juni 2018, 14:11
Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto melihat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum berdampak pada inflasi Mei 2018. Menurut dia, dampaknya baru akan terasa jika pelemahan nilai tukar rupiah terjadi dalam jangka panjang.

“Biasanya depresiasi berpengaruh kalau terjadi lama, (misalnya) setahun dan depresiasinya dalam,” kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin (4/6). (Baca juga: Rupiah Melemah, Pengusaha Tahan Harga Makanan & Minuman Hingga Lebaran)

Sementara ini, Suhariyanto menilai depresiasi rupiah juga belum terlalu besar. Mengacu pada data kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah telah melemah sekitar 3,02% sepanjang tahun ini (year to date/ytd).

Adapun BPS mencatat tingkat inflasi pada Mei 2018 sebesar 0,21% secara bulanan (month on month/mom) atau 3,23% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 0,39% (mom). Padahal, sama-sama ada faktor Ramadan.

Advertisement

Menurut Suhariyanto, pencapaian tersebut seiring dengan terkendalinya harga pangan imbas kebijakan yang diambil pemerintah pusat dan daerah. “Dengan manajemen stok di berbagai tempat juga panen raya jadi inflasi terkendali,” kata dia.

Selain itu, inflasi rendah juga lantaran pemerintah telah menyepakati tidak akan ada kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices) berupa BBM bersubsidi dan listrik sepanjang tahun ini. Di sisi lain, Suhariyanto mengklaim kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi tidak berpengaruh pada inflasi Mei.

Atas dasar itu, ia pun menepis anggapan bahwa inflasi rendah saat Ramadan sebagai pertanda perlambatan konsumsi masyarakat. “Saya rasa tidak. Angka 0,21% (inflasi) itu yang tidak biasa adalah volatile food (komponen pangan bergejolak) pada bulan ini memang betul-betul sangat terkendali,” kata dia.

Ke depan, menurut dia, potensi inflasi yang perlu diwaspadai berasal dari komoditas daging ayam dan telur. Komoditas ini tercatat mengalami kenaikan tinggi pada Mei. (Baca juga: Pelemahan Rupiah Kerek Harga Ayam dan Telur)

Adapun sebelumnya, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia menyebut kenaikan harga ayam dan telur juga imbas pelemahan kurs rupiah. Selain karena penurunan produksi akibat banyaknya penyakit unggas. Sebab, bahan baku pakan unggas kebanyakan diimpor.  

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait