Dana Asing Keluar, Neraca Pembayaran Kuartal I Defisit US$ 3,9 Miliar

Kondisi neraca pembayaran paling buruk dalam lebih dari dua tahun belakangan.
Image title
11 Mei 2018, 20:51
Dolar rupiah
Arief Kamaludin (Katadata)

Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) defisit US$ 3,9 miliar pada triwulan I 2018. Pencapaian triwulanan ini merupakan yang terburuk dalam lebih dari dua tahun belakangan. Penyebabnya, penurunan drastis surplus transaksi modal dan finansial imbas arus keluar investasi asing dari portofolio.

NPI menunjukkan transaksi antara penduduk Indonesia dan penduduk negara lain dalam jangka waktu tertentu. NPI terdiri dari neraca transaksi berjalan (perdagangan barang dan jasa) dan neraca transaksi modal dan finansial. Defisit NPI menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan valas. Tak ayal, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan. 

“Defisit NPI pada triwulan laporan ini disebabkan oleh surplus transaksi modal dan finansial yang menurun sehingga tidak dapat membiayai defisit transaksi berjalan,” demikian tertulis dalam laporan BI, Jumat (11/5). (Baca juga: Tekanan Kurs Rupiah Berlanjut, Cadangan Devisa Tergerus US$ 1,1 Miliar)

Secara rinci, surplus transaksi modal dan finansial tercatat sebesar US$ 1,9 miliar. Surplus ini turun drastis dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar US$ 6,8 miliar, maupun triwulan I 2017 yang sebesar US$ 6,9 miliar. Surplus ini juga tercatat sebagai yang terendah dalam lebih dari dua tahun belakangan.

Advertisement

Penurunan terutama disebabkan oleh arus keluar dana asing dari portofolio yang mencapai US$ 1,4 miliar. “Neto arus keluar pada investasi portofolio seiring dengan berlanjutnya pelepasan saham domestik dan lebih rendahnya neto pembelian surat berharga negara (SBN) oleh investor asing,” demikian tertulis. 

(Baca juga: Gubernur BI: Ada Ruang Cukup Besar Sesuaikan Bunga Acuan)

Di sisi lain, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$ 5,5 miliar atau 2,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar US$ 6 miliar atau 2,3% terhadap PDB. Penyebab utamanya penurunan defisit neraca jasa dan peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder.

BI mencatat, penurunan defisit neraca jasa terutama dipengaruhi kenaikan surplus jasa perjalanan seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan menurunnya impor jasa pengangkutan (freight). Peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder sejalan dengan naiknya penerimaan remitansi dari pekerja migran Indonesia.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas menurun terutama dipengaruhi penurunan ekspor nonmigas. Adapun impor nonmigas juga menurun meski lebih terbatas dengan impor barang modal dan bahan baku masih berada pada level yang tinggi sejalan dengan kegiatan produksi dan investasi yang meningkat.

Namun, defisit transaksi berjalan triwulan I 2018 tersebut lebih tinggi jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 2,2 miliar. Penyebab utamanya, pertumbuhan tahunan impor yang tinggi, terutama impor nonmigas baik barang konsumsi, bahan baku, maupun barang modal. Impor nonmigas tercatat sebesar US$ 35,2 miliar atau naik 22,2% secara tahunan. Di sisi lain, ekspor nonmigas tercatat naik, namun hanya 8,7% secara tahunan. 

Adapun secara keseluruhan, Gubernur BI Agus Martowardojo menilai kondisi NPI masih baik meski defisitnya cukup besar. Hal itu di antaranya lantaran transaksi modal dan finansial masih positif ditopang oleh investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI). “Kami melihat Neraca Pembayaran Indonesia tetap baik sehingga menopang tekanan eksternal Indonesia,” ujarnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Jumat (11/5).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait