Meski Lebih Murah, Transaksi Dagang Pakai Uang Lokal Sepi Peminat

Image title
13 April 2018, 15:36
Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi dagang dan investasi langsung dengan mata uang lokal antara perusahaan Indonesia dengan perusahaan Malaysia dan Thailand masih sepi peminat. Hal itu tercermin dari minimnya pembelian rupiah oleh bank fasilitator alias Appointed Across Currency Dealer (AACD) yang ditunjuk kedua negara ASEAN tersebut.

Per Januari 2018, pembelian rupiah oleh bank AACD hanya sebesar Rp 7,47 miliar, lalu turun menjadi Rp 5,58 miliar pada Februari dan Rp 14,06 miliar pada Maret. Adapun sepanjang April, transaksinya sebesar Rp 1,57 miliar.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada eksportir dan importir untuk mendorong transaksi dagang dalam mata uang lokal. Sosialisasi sudah dilakukan di Batam, Semarang, Surabaya, Jakarta dan Bandung. (Baca juga: Kurangi Penggunaan Dolar, 6 Perusahaan Dagang Pakai Baht dan Ringgit)

Menurut dia, sebanyak tujuh perbankan di Indonesia sudah siap untuk memproses transaksi dagang dan investasi langsung dengan mata uang lokal. "Dari 7 bank AACD, sudah 4 bank aktif transaksi. Sudah banyak (perusahaan) yang membuka rekening di masing-masing bank. Jadi, secara infrastruktur sudah siap," kata Nanang di kantornya, Jakarta, Jumat (13/4).

Keempat bank yang dimaksud yaitu PT Bank Negara Indonesia (BNI), PT Bank Central Asia (BCA), Bangkok Bank, dan PT Bank Maybank. "Kami harap tiga bank sisanya juga melakukan hal yang sama," kata dia. Mengacu pada rilis BI, tiga bank lainnya yang juga masuk AACD yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank Mandiri dan PT Bank CIMB Niaga.

Adapun sebelumnya, BI bersama bank sentral Thailand dan Malaysia telah meluncurkan kerangka kerja sama untuk memfasilitasi transaksi dagang dengan mata uang lokal. Bank sentral Thailand dan Malaysia sama-sama menunjuk lima bank untuk memfasilitasi kerja sama tersebut. Sedangkan Indonesia menunjuk enam bank. Kerja sama berlaku efektif mulai awal 2018.

Salah satu tujuan utama kerja sama tersebut yaitu mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejauh ini, Nanang mencatat, hampir 94% transaksi dagang dengan Malaysia menggunakan dolar AS.

Di sisi lain, bagi eksportir dan importir, biaya untuk transaksi dagang dengan mata uang lokal lebih efisien dibanding menggunakan dolar AS. Selisih antara harga jual dan beli yang perlu ditanggung hanya sebesar Rp 1 sampai Rp 3. "Sangat efisien bagi eksportir importir yang mau lakukan konversi antara 3 mata uang ini," ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait