Stabilitas Kurs Rupiah Terus Dibayangi Risiko Keluar Masuk Dana Asing

Image title
4 April 2018, 15:16
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Dana asing kembali mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) alias surat utang pemerintah, setelah beberapa waktu lalu sempat keluar menjelang kenaikan bunga dana Amerika Serikat (AS). Perkembangan ini membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lebih stabil. Namun, fluktuasi nilai tukar rupiah terus membayangi lantaran dana asing bisa sewaktu-waktu keluar masuk.

Hingga 2 April 2018, pemilikan asing di SBN tercatat sebesar Rp 861,35 triliun atau 39,43% dari total SBN. Sebelumnya, pemilikan asing sempat mencapai Rp 880,2 triliun pada 23 Januari 2018, lalu berangsur turun sebanyak Rp 54 triliun ke level Rp 826,3 triliun pada 13 Maret 2018.

Beberapa ekonom menyebut salah satu upaya untuk meredam arus keluar dana asing secara tiba-tiba, yaitu dengan menerbitkan surat utang yang tidak bisa dijual dalam jangka waktu tertentu alias memiliki holding period. Namun, Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Loto Srinaita mengatakan pihaknya belum memiliki rencana semacam itu. “Belum ada arah ke sana,” kata dia kepada Katadata.co.id, pekan lalu.

(Baca juga: Cegah Dana Asing Keluar, Ekonom Usulkan Holding Period Obligasi Negara)

Di sisi lain, Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan Scenaider Siahaan justru melihat sisi positif dari aksi jual SBN oleh investor asing. Aksi jual tersebut dinilainya merupakan peluang bagi investor domestik untuk masuk. Adapun pemerintah terus mendorong peningkatan kepemilikan SBN oleh investor domestik. Salah satu tujuannya, untuk membantu menjaga stabilitas di pasar SBN dan stabilitas kurs.   

Sceneider menjelaskan, aksi jual bakal membuat imbal hasil (yield) SBN naik, alhasil keuntungan yang bisa diraup pemegangnya bakal lebih besar. “(Yield) Itu buat investor itu return. Return-nya berarti naik dan mereka akan membeli,” ucapnya. Meski begitu, ia menekankan, pemerintah telah menyiapkan mitigasi bila kembali terjadi aksi jual.

“Pertama, kami minta BUMN untuk membeli itu. Kemudian kalau (penjualan) masih masif, ya nanti pemerintah juga beli, BI (Bank Indonesia) beli. BUMN yang masuk bond stabilitation framework itu beli,” ucapnya. Di sisi lain, Gubernur BI terpilih Perry Warjiyo menyampaikan pihaknya juga siap memasok dolar di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah bila terjadi tekanan.

(Baca juga: Restui Perry Warjiyo Menjadi Gubernur BI, DPR: Jaga Stabilitas Rupiah)

Adapun Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyebut kepemilikan asing di SBN Indonesia sudah lebih tinggi dibandingkan di negara tetangga. Pada akhir 2017, ia mencatat pemilikan asing di level 39,8% terhadap total SBN Indonesia, sedangkan Malaysia hanya 29,2%, Thailand 16,2%. Bahkan, Jepang hanya 11%. 

Sebelumnya, menanggapi kekhawatiran soal besarnya porsi asing di SBN, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pemerintah melakukan diversifikasi instrumen utang agar partisipasi masyarakat Indonesia bisa ditingkatkan. Adapun partisipasi masyarakat dinilai sudah menunjukkan peningkatan. Sejak diterbitkannya SBN retail pada 2006, misalnya, jumlah investor retail domestik yang memegang SBN sudah mencapai 501.713.

(Baca juga: 12 Poin Klarifikasi Sri Mulyani Soal Kehebohan Utang)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait