Banjir Sentimen Negatif, Investor Asing Jual Bersih Saham Rp 1 Triliun

Martha Ruth Thertina
7 Maret 2018, 19:14
IHSG
Arief Kamaludin|KATADATA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2% ke level 6.368 pada perdagangan Rabu (7/3). Pelemahan tersebut tergolong paling besar di antara indeks lainnya di bursa saham Asia. Hal itu seiring ramainya aksi jual saham oleh investor asing. Berdasarkan data RTI, investor asing mencatatkan penjualan bersih di keseluruhan pasar sebesar Rp 1,17 triliun.

Managing Director Head of Equity Capital Markets PT Samuel International Harry Su mengatakan pelaku pasar merespons beberapa pemberitaan di domestik. Pertama, pernyataan analis Moody’s Investor Service yang mengkritik keputusan pemerintah mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan listrik.

(Baca juga: Keputusan Pemerintah Tahan Harga BBM Berisiko Ganggu Rating Utang)

Kedua, kebijakan pemerintah mengatur harga batu bara untuk kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO). Ketiga, semakin banyaknya emiten yang pendapatannya di bawah ekspektasi. “Ada tiga news,” kata Harry kepada Katadata.co.id, Rabu (7/3).

Ia memprediksi tren penurunan IHSG masih akan berlanjut lantaran indeks di bursa Amerika Serikat (AS) juga masih tertekan. “Kan Dow Jones juga tertekan, jadi kita akan susah memisahkan diri,” ucapnya.

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menjelaskan, mayoritas pelaku pasar merespons berlebihan berbagai perkembangan di global dan domestik. Kondisi ini yang membuat IHSG terpukul. “Pasar diliputi banyak kekhawatiran yang pada akhirnya membuat pasar turun karena kepanikannya sendiri,” kata dia.

Ia memaparkan, dari global, ada kekhawatiran terkait kebijakan proteksionisme AS, mundurnya advisor pemerintahan Presiden AS Donald Trump, kembali memanasnya kondisi politik di Italia, hingga rencana pertemuan Korea Utara dan AS untuk membahas penggunaan nuklir.

Sedangkan di dalam negeri, pelaku pasar menyoroti pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, penurunan keyakinan konsumen, hingga kemungkinan tertahannya rating utang jangka panjang Indonesia imbas kebijakan pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik.

Sejalan dengan Harry, Reza juga masih melihat risiko berlanjutnya tren penurunan IHSG. “Belum ada sinyal pembalikan arah dan sentimen positif yang signifikan yang mampu mengangkat IHSG,” kata dia.

Adapun pelamahan indeks juga terjadi pada mayoritas indeks di bursa saham Asia. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 1,03%, Nikkei 225 turun 0,77%, dan CSI 300 di Tiongkok turun 0,74%.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait