Ada Risiko Tahun Politik dan Siklus Krisis, BI Yakin Ekonomi Stabil

BI menilai risiko yang perlu diwaspadai yaitu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang seiring kenaikan bunga dana Amerika Serikat (AS).
Image title
21 Februari 2018, 21:29
Gubernur BI, Agus Martowardojo
Arief Kamaludin|KATADATA
Gubernur BI, Agus Martowardojo

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meyakini stabilitas ekonomi Indonesia terjaga meski ada perhelatan politik besar dan siklus krisis sepuluh tahunan. Optimisme tersebut lantaran melihat sejarah dan data-data ekonomi domestik sejauh ini.

Agus menjelaskan, dalam 10-15 tahun terakhir, stabilitas ekonomi terjaga meski ada perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun pemilihan presiden (Pilpres). "Kalau seandainya ada dinamika politik yang berjalan sama seperti sebelumnya, kami BI bersama lembaga-lembaga terkait akan terus menjaga stabilitas ekonomi," kata dia di Perbanas Institute, Jakarta, Rabu (21/2).

Menurut dia, BI akan menerapkan kebijakan makroprudensial yang merespons dengan cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi. "Istilahnya adalah ahead of the curve. Jadi, harus secepatnya kami respons," ucapnya. (Baca juga: BI Lihat Risiko Volatilitas Kurs Rupiah Menjelang Maret atau Juni)

Agus juga meyakini Indonesia tidak akan terkena siklus krisis sepuluh tahunan. Optimisme tersebut lantaran melihat fundamental ekonomi yang kuat. "Pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca pembayaran, fiskal, cadangan devisa, transaksi berjalan, semua dalam kondisi yang baik," kata dia.

Advertisement

Selain itu, Indonesia juga telah memiliki Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK). Ia menilai kehadiran UU tersebut membuat Indonesia siap jika ada gejala risiko gangguan ekonomi yang bersifat sistemik.

"UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK) yang diselesaikan di 2016, dan mengamanatkan kepada BI, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menjaga kestabilan ekonomi kita," kata Agus.

Adapun saat ini, risiko yang perlu diwaspadai yaitu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang ke negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat (AS). “Ada kemungkinan kembali ke negara-negara besar yang memang sekarang sudah mulai mengurangi (memperketat) kebijakan-kebijakan moneternya,” ucapnya.

AS mulai menaikkan bunga dana sering membaiknya ekonomi di negara tersebut. Dalam 8-9 tahun terakhir bunga dana AS berada di kisaran 0-25%. Saat ini, bunga dana di level 1,5%. "Itu kan artinya naik enam kali lipat. Jadi, Anda mesti siap-siap," kata dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait