Bursa Saham Global Berguguran, Dolar AS Perkasa

Mengekor bursa Amerika Serikat (AS), mayoritas indeks di bursa Asia berjatuhan, indeks CSI 300 di Tiongkok turun paling dalam.
Martha Ruth Thertina
9 Februari 2018, 12:18
bursa saham new york
ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly
Pedagang saham bekerja di lantai bursa di New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City, Amerika Serikat, Rabu (21/12).

Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali tertekan setelah investor ramai-ramai melakukan aksi jual (sell off). Aksi jual menular ke bursa saham Asia. Imbasnya, mayoritas indeks di bursa Asia kembali anjlok, termasuk indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Indeks utama di bursa AS ditutup merah pada perdagangan Kamis (8/2). Indeks Dow Jones turun 4,15%, Nasdaq Composite turun 3,9%, dan S&P 500 turun 3,79%. Bloomberg memberitakan tekanan terhadap bursa saham AS terjadi seiring kenaikan lebih lanjut imbal hasil (yield) surat utang AS tenor 10 tahun ke level 2,88%. Kondisi tersebut seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan bunga dana AS. 

Mengekor bursa AS, mayoritas indeks di bursa Asia berjatuhan pada perdagangan Jumat (9/2). Saat berita ini ditulis, CSI 300 di Tiongkok anjlok 4,43%. Tekanan di bursa Tiongkok juga seiring dengan data surplus perdagangan yang lebih kecil dari harapan.

Indeks Hang Seng di Hong Kong juga anjlok 3,33%, Nikkei 225 di Jepang turun 2,57%, begitu juga dengan indeks Kospi di Korea Selatan turun 1,59%. Sementara itu, indeks di BEI turun 1,10%. (Baca juga: Gejolak Bursa Saham Global, Sri Mulyani Fokus Jaga Stabilitas Domestik)

Advertisement

Seiring maraknya aksi jual di bursa saham, dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat terhadap mayoritas mata uang dunia. Hal itu tercermin dari indeks DXY yang naik sekitar 1,8% sejak awal Februari.

Mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level 13.643 per dolar AS pada Jumat (9/2). Level ini merupakan yang terlemah sejak Juni 2016. (Baca juga: Rupiah Anjlok ke 13.600 per Dolar AS, Level Terlemah Sejak Juni 2016)

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan maraknya aksi jual di AS juga dipicu oleh dominasi penggunaan mesin untuk transaksi saham. “Mereka bisa membuat trigger, misalnya mereka kasih threshold indikator ini naik sekian, jual. Saya kira ini turut memicu sell off di bursa AS, yang menular ke asia, UK, Eropa,” kata dia kepada Katadata, Kamis (8/2).

Meski begitu, ia melihat peluang gejolak di pasar mereda. Hal itu seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed San Fransisco John Williams bahwa kenaikan bunga dana AS bakal bertahap dan sesuai rencana sehingga pelaku pasar tidak perlu khawatir. Perkiraan awal bunga dana AS bakal naik tiga kali tahun ini.

Tekanan di pasar domestik juga diharapkan turun. Apalagi, ada beberapa pemberitaan positif untuk Indonesia, di antaranya kenaikan rating utang jangka panjang Indonesia dari lembaga rating Jepang dan cadangan devisa yang semakin tebal. (Baca juga: Lembaga Rating Jepang Kerek Peringkat RI, BI: Cermin Dunia Makin Yakin)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait