Impor Berpotensi Naik, BI: Defisit Transaksi Berjalan Bisa Tembus 2,5%

Kenaikan harga minyak dunia turut berkontribusi terhadap defisit pada transaksi berjalan.
Rizky Alika
19 Januari 2018, 12:55
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA
Dolar

Bank Indonesia (BI) memprediksi defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) bisa menembus 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Hal tersebut lantaran impor berpotensi meningkat.

Transaksi berjalan menunjukkan aktivitas perdagangan internasional (ekspor-impor) barang dan jasa dari suatu negara. Jika nilainya defisit atau minus berarti negara tersebut mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada mengekspor.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo menjelaskan peningkatan defisit transaksi berjalan seiring dengan impor yang naik lantaran pertumbuhan ekonomi yang membaik.

"Dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik, itu akan mendorong impor. CAD akan meningkat ke kisaran 2-2,5% terhadap PDB," kata dia di Kompleks BI, Kamis (18/1). Tahun ini, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi berada di rentang 5,1-5,4%.

Advertisement

Adapun peningkatan defisit transaksi berjalan sebetulnya terjadi mulai kuartal IV 2017 lalu. Dody menjelaskan, defisit ketika itu berkisar 2% terhadap PDB, melonjak dari kuartal sebelumnya yang sebesar 1,65% dari PDB. Meski defisit meningkat, namun ia menekankan level defisit masih aman. "Ini suatu level yang sehat karena di bawah 3%," ucapnya.

Selain imbas pertumbuhan ekonomi, Dody menjelaskan faktor lain yang juga mempengaruhi kondisi defisit transaksi berjalan yakni kenaikan harga minyak dunia. Sebab, Indonesia merupakan negara importir minyak dan gas (migas). (Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik, Defisit Neraca Dagang Terancam Berlanjut)

Bila mengacu pada data neraca perdagangan yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas memang menjadi penyebab neraca perdagangan (barang) alami defisit US$ 270 juta pada Desember 2017 lalu. Impor tercatat naik 15,89% dibandingkan bulan sebelumnya, atau melonjak 50,1% jika dibandingkan dengan Desember 2016. 

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait