Ekonom Ingatkan Jaga Inflasi, Cegah Bunga Acuan Naik Drastis

Defisit APBN 2018 yang rendah semestinya bisa memberikan keleluasaan bagi pemerintah jika mau mempertahankan harga energi meski harga minyak dunia naik.
Martha Ruth Thertina
18 Januari 2018, 13:52
BBM
Arief Kamaludin|KATADATA

Tekanan inflasi diperkirakan meningkat di awal tahun ini, imbas kenaikan harga pangan, terutama beras yang stoknya menurun. Ke depan, risiko inflasi masih membayangi seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang bisa menyulut kenaikan harga energi di Tanah Air.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, kunci pengendalian inflasi ada di tangan pemerintah. Ia pun menekankan harus ada langkah-langkah pengendalian agar inflasi tidak melonjak sehingga memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuan secara drastis untuk menjaga nilai tukar rupiah.

“Suku bunga mau tidak mau harus ikut naik karena suku bunga global naik. Tapi, yang diinginkan naik pelan-pelan. Jangan sampai dinaikkan drastis karena masalah itu,” kata David kepada Katadata, Kamis (18/1). Kenaikan drastis bunga acuan dinilai tidak baik bagi ekonomi.

Meski begitu, ia menilai, dengan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 yang rendah semestinya pemerintah bisa memiliki keleluasaan jika mau mempertahankan harga energi di Tanah Air meski harga minyak dunia naik. Dengan begitu, inflasi bisa tetap terkendali. (Baca juga: Harga Minyak Naik, Pemerintah Putuskan Nasib BBM Sebelum Maret)

Advertisement

Sesuai kesepakatan pemerintah dengan parlemen, defisit APBN 2018 dipatok hanya 2,19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah ambang maksimal 3%. Ini artinya masih ada ruang 0,81% jika ingin menambah defisit.

“Selama harga minyak masih di kisaran sekarang (US$ 60-70 per barel), masih ada ruang buat bemanuver, kalau sudah US$ 90 ke atas beban subsidi, terutama listrik yang meningkat pesat, itu yang bisa mengganggu APBN,” kata David.

Menurut dia, pemerintah juga perlu mendorong masyarakat untuk lebih banyak menggunakan BBM nonsubsidi seperti pertalite. “Sekarang juga sudah banyak yang pakai,” kata dia. Harapannya, beban subsidi energi kian ringan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait