BI: Transaksi Berjalan Defisit, Pemerintah Perlu Jaga Investasi Asing

Investasi asing juga diperlukan untuk mencukupi kebutuhan pendanaan dalam negeri. Pendanaan dari perbankan hanya mencapai 30-35% terhadap PDB.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
31 Oktober 2017, 20:01
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan, investasi asing menjadi penting bagi Indonesia karena neraca transaksi berjalan (current account) masih defisit. Selain itu, investasi asing diperlukan untuk mencukupi kebutuhan pendanaan dalam negeri.

Neraca transaksi berjalan (current account) mencerminkan pasokan dan permintaan valuta asing dari aktivitas perdagangan internasional dan kegiatan jasa suatu negara. Kondisi transaksi berjalan defisit (current account deficit/CAD) artinya pasokan valas dari aktivitas tersebut tidak cukup mendanai kebutuhan valasnya. (Baca juga: Sektor Pariwisata Dibidik Jadi Penyumbang Devisa Terbesar pada 2020)

"Kalau ada defisit kan dibutuhkan devisa. Kalau dari portofolio dan FDI (Foreign Direct Investment/Investasi asing langsung) tidak masuk, CAD siapa yang bayar? Maka CAD boleh tapi harus di angka yang sehat," kata Mirza di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (31/10). (Baca juga: Realisasi Investasi Hingga September 2017 Capai 75,6% dari Target)

Lebih jauh, Mirza menjelaskan, investasi asing juga diperlukan lantaran pendanaan dari dalam negeri belum mencukupi kebutuhan. Pendanaan dari kredit perbankan, misalnya, hanya sekitar 30-35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, pendanaan dari asuransi, dana pensiun, dan reksadana hanya 15% terhadap PDB.

"Siapa yang danai selebihnya? Dari luar negeri baik dalam bentuk utang luar negeri, investasi portofolio, dan FDI. Makanya, utang luar negeri itu perlu tapi tetap dijaga hati-hati," ucapnya. (Baca juga: Utang Luar Negeri Capai Rp 4.590 Triliun, Mayoritas dari Sektor Publik)

Atas dasar itu, menurut Mirza, pemerintah dan BI perlu bekerja sama untuk menjaga kondisi makro ekonomi agar investor nyaman menanamkan dananya di dalam negeri. Apalagi, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Apa yang dilihat investor saat outflow? Dilihat dulu negara-negara yang angka makronya tidak disiplin. Kalau investor di negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market), dia mulai dengan angka-angka makro dulu baru lihat profit," ujar dia.

Adapun sejauh ini, ia menilai makro ekonomi dalam kondisi baik. Tahun ini, BI memperkirakan inflasi di bawah 4% dan CAD sekitar 2%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada dalam rentang 5-5,4%. Ia pun meyakini baiknya kondisi makro ekonomi bakal berlanjut ke tahun depan.

"Di pasar saham sempat outflow saat kemarin angka pertumbuhan ekonomi di bawah ekspektasi. Kalau pertumbuhan ekonomi kuartal III better maka pasar saham kemudian inflow lagi," kata Mirza. (Baca juga: BI Prediksi Ekonomi Kuartal III Tak Lagi Stagnan, Tumbuh 5,17%)

Video Pilihan

Artikel Terkait