Rupiah Melemah 5,51% Terhadap Yuan, BI Segera Fasilitasi Hedging

Bank Indonesia telah membuka fasilitas lindung nilai non-dolar AS untuk yen dan euro.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
27 Oktober 2017, 19:48
Yuan
KATADATA

Bank Indonesia (BI) terus memperbanyak swap lindung nilai (hedging) non-dolar Amerika Serikat untuk membantu korporasi mengantisipasi rugi kurs. Setelah membuka fasilitas lindung nilai untuk yen Jepang dan euro, BI berencana membuka fasilitas serupa untuk yuan atau renminbi Tiongkok pada Desember 2017.  

"(Dengan demikian) pinjaman luar negeri yang menghadapi risiko kurs bisa hedging ke BI dengan underlying yang dulu hanya terbatas dolar AS, bulan ini bisa dengan euro dan Desember dengan renminbi," kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo ditemui wartawan di kompleks BI, Jakarta, Jumat (27/10). (Baca juga: Dorong Diversifikasi Utang Luar Negeri, BI Buka Lindung Nilai Euro)

Dengan kebijakan itu, BI berharap bisa mendukung pembiayaan ekonomi, termasuk untuk infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga membantu BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan memperdalam pasar valuta asing (valas). (Baca juga: Rupiah Melemah Tembus 13.600 per US$, BI Sudah Intervensi Pasar)

Risiko rugi kurs memang membesar seiring gejolak nilai tukar rupiah terhadap mata uang dunia. Mengacu pada data Bloomberg per Jumat (27/10), rupiah telah melemah 5,51% terhadap yuan sejak awal tahun ini (year to date/ytd).

Rupiah juga tercatat melemah cukup besar terhadap mata uang dunia lainnya. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS mencapai 1,01% (ytd), lalu terhadap yen Jepang 3,87%, dan terhadap euro 11,82%. (Baca juga: Utang Luar Negeri Capai Rp 4.590 Triliun, Mayoritas dari Sektor Publik)

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo sempat menyampaikan dorongannya agar perusahaan domestik, khususnya yang memiliki pendapatan dalam rupiah namun memiliki utang luar negeri untuk memanfaatkan fasilitas hedging yang disediakan. Tujuannya utamanya, untuk menjaga neraca keuangannya.

“Harus bisa mengikuti peraturan kehati-hatian yang dikeluarkan BI. Harus memenuhi jumlah lindung nilai dalam neraca keuangan mereka,” kata dia.

Video Pilihan

Artikel Terkait