BEI: Perhitungan Saham Freeport Urusan Investor

Bursa Efek Indonesia hanya bisa memberikan indikasi valuasi saham Freeport berdasarkan perusahaan yang sejenis. Namun, hal itu juga tidak mudah dilakukan.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
10 Oktober 2017, 20:01
Freeport Indonesia
Arief Kamaludin | Katadata

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan tidak bisa melakukan perhitungan atau valuasi atas saham PT Freeport Indonesia. Sebab, valuasi seharusnya dilakukan oleh investor atau lembaga penilai publik.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan akan menyerahkan perhitungan valuasi saham Freeport kepada BEI. Tujuannya, agar pasar ikut menghitung nilai saham perusahaan tambang tersebut, sehingga ada transparansi dalam prosesnya. (Baca juga: Pemerintah Serahkan Valuasi Saham Freeport ke Otoritas Bursa)

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, valuasi biasanya dilakukan lembaga penilai publik berdasarkan metode perhitungan tertentu. Misalnya, menggunakan arus kas (cash flow), Price-Earnings Ratio, atau metode lainnya.

"Biasanya perusahaan tambang memiliki nilai aset yang bisa dikalkulasi," kata Samsul saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (10/10). Menurut Samsul, yang bisa dilakukan BEI adalah hanya memberikan indikasi valuasi berdasarkan perusahaan yang sejenis. Akan tetapi, hal tersebut juga tidak mudah dilakukan. Alasannya, tidak ada perusahaan yang sangat sejenis dengan Freeport. Hal ini karena komposisi produksi dari masing-masing perusahaan tambang berbeda-beda.

Selain itu, komposisi kandungan dalam pertambangannya pun berbeda-beda. "Kalaupun kami dari sisi bursa bisa membuat indikasi, keputusan akhirnya nanti tetap di investor yang menentukan paling pas berapa saham Freeport. Tidak bisa bursa yang menentukan," ujarnya. (Baca Ekonografik: Tarik Ulur Saham Freeport)

Samsul pun mengatakan, valuasi saham Freeport ini tidak bisa begitu saja dikomparasikan dengan induk usahanya yang telah tercatat di bursa Amerika Serikat (AS) karena kepemilikan aset yang berbeda. Namun, perhitungan bisa mengacu pada data kontribusi Freeport di Indonesia terhadap induk usahanya tersebut. Data tersebut seharusnya tersedia di New York Stock Exchange (NYSE).

Rencananya, Freeport bakal melepas 51% sahamnya kepada Indonesia. Adapun hingga kini, pemerintah baru menggenggam 9,36% saham perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut.  

Tahun lalu, Freeport sempat menawarkan 10,64% sahamnya senilai US$ 1,7 miliar atau sekitar US$ 15,9 miliar untuk 100%, berikut dengan cadangan tambang emas dan tembaga di Tambang Grasberg, Papua hingga 2041. Jika menggunakan perhitungan tersebut, maka untuk harga 51% saham, nilainya mencapai US$ 8,1 miliar atau sekitar Rp 110 triliun.

Namun, pemerintah menolak dan keberatan jika harga saham tersebut dihitung berikut dengan nilai cadangan emas dan tembaga. (Baca: Freeport Berpeluang Bayar Pajak Penghasilan Lebih Rendah)

Sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menghitung nilai saham induk usaha Freeport Indonesia, Freeport McMoran Inc (FCX), sebagai acuan. Nilai 100% saham FCX di bursa New York saat ini sebesar US$ 20,74 miliar. Sekitar 40% pendapatan FCX berasal dari Freeport Indonesia. Dengan asumsi ini, Jonan menilai 100% saham Freeport Indonesia sekitar US$ 8 miliar. Artinya untuk 51% saham Freeport Indonesia yang akan dilepas hanya sekitar US$ 4 miliar, atau Rp 54 triliun.

Video Pilihan

Artikel Terkait