Cadangan Devisa Cetak Rekor Tertinggi Nyaris US$ 130 Miliar

"Ini untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Salah satu risikonya adalah kalau ada capital reversal," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
6 Oktober 2017, 21:28
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa mencapai US$ 129,4 miliar pada akhir September 2017. Level tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang masa. Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan tebalnya cadangan devisa bermanfaat bagi BI dalam mengantisipasi risiko pembalikan modal asing (capital reversal).

"Ini untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Salah satu risikonya adalah kalau ada capital reversal," kata Agus usai Rapat Koordinasi terkait elektronifikasi jalan tol di kantornya, Jakarta, Jumat (6/10). Cadangan devisa cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (Baca juga: Dana Asing Deras, Net Kewajiban Investasi Indonesia Naik US$ 15,6 M)

Adapun pembalikan modal asing berpotensi terjadi mengingat perekonomian Amerika Serikat (AS) mulai tumbuh sehingga membuka peluang bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan bunga dana. Adapun prospek ekonomi AS semakin positif lantaran parlemennya menyetujui rencana reformasi perpajakan.

Menurut Agus, cadangan devisa yang terus meningkat mencerminkan kondisi ekonomi dalam negeri yang membaik. Baik itu dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi, ataupun defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD). (Baca juga: Ekonomi Membaik, Gubernur BI Yakin Pelemahan Kurs Rupiah Sementara)

Defisit transaksi berjalan diprediksi hanya 1,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Dengan kondisi tersebut, secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diproyeksikan surplus sebesar US$ 11 miliar.

Agus mengakui prediksi surplus tersebut lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu yang mencapai US$ 12 miliar. Namun, menurut dia, NPI tahun lalu terbantu oleh adanya program pengampunan pajak (tax amnesty).

"Sebelumnya sepanjang 2017 kami perkirakan (NPI) hanya (surplus) US$ 6-7 miliar. Ternyata ini terus terkoreksi dan terakhir kami melihat NPI akan bisa mencapai US$ 11 miliar,” kata dia.

Dalam keterangan pers tertulis, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman mengatakan, peningkatan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

Agusman menuturkan posisi cadangan devisa cukup kuat lantaran mampu membiayai 8,9 bulan impor. Level tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," kata dia.

Cadangan devisa tercatat menembus level US$ 120 miliar sejak Maret tahun ini. Adapun cadangan devisa per September yang sebesar US$ 129,4 miliar meningkat US$ 600 juta dibanding posisi Agustus yang sebesar US$ 128,8 miliar.

Video Pilihan

Artikel Terkait