Risiko Utang PLN Jadi Sorotan, Gubernur BI Tekankan Kondisi Aman

Pelemahan rupiah beberapa hari belakangan diyakini bukan karena berkembangnya sentimen negatif di pasar terkait risiko utang PLN. 
Desy Setyowati
29 September 2017, 17:01
Agus Martowardojo
ARIEF KAMALUDIN I KATADATA

Surat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang bocor tentang risiko utang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) memunculkan pertanyaan tentang risiko utang perusahaan pelat merah lainnya. Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyatakan, secara umum, utang Indonesia dalam kondisi aman.

Pernyataan Agus tersebut mengacu pada rasio utang luar negeri pemerintah dan swasta yang hanya 34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio tersebut jauh di bawah batas atas rasio utang pemerintah yang diperbolehkan Undang-Undang Keuangan Negara yaitu 60% terhadap PDB. Selain itu, mayoritas utang juga memiliki waktu jatuh tempo yang panjang. "Jadi secara umum utang Indonesia dalam keadaan baik dan sehat," kata dia di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (29/9).

Agus juga menolak anggapan bahwa pelemahan rupiah beberapa hari belakangan disebabkan oleh sentimen negatif yang berkembang di pasar terkait risiko utang PLN. Menurut dia, depresiasi rupiah disebabkan faktor eksternal terutama kebijakan fiskal dan moneter Amerika Serikat (AS). (Baca juga: Masalah Keuangan PLN Dikhawatirkan Bisa Pengaruhi Rating Utang RI)

Kebijakan yang ia maksud yakni pemangkasan tarif pajak individu dan korporasi di AS. Selain itu, pengurangan neraca keuangan dan kenaikan bunga dana bank sentral AS. Saat ini, mayoritas pelaku pasar meyakini bunga dana AS akan naik 0,25% di akhir tahun.

Advertisement

"Tapi kami tegaskan BI akan selalu ada di pasar untuk menjaga stabilitas. Maka kami meminta semua waspada saja tapi secara umum kondisi ini baik," ujar dia. (Baca juga: Ditekan Sentimen Global, Kurs Rupiah Tak Sekuat Ringgit dan Bath)

Sebelumnya, Kepala Riset Monexindo Ariston Tjendra menduga selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga disebabkan sentimen pasar terkait risiko utang PLN. "Mungkin karena isu utang PLN kemarin yang menimbulkan sentimen negatif ke rupiah. Pasar menjadi khawatir mengenai manajemen utang pemerintah," kata dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait