Ditekan Sentimen Global, Kurs Rupiah Tak Sekuat Ringgit dan Bath

Rendahnya indeks daya saing Indonesia diduga menjadi salah satu penyebab rupiah lebih rentan terhadap gejolak dibandingkan mata uang negara tetangga.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
29 September 2017, 14:33
Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) memukul sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah. Setelah sempat menguat ke level Rp 13.100-13.200 per dolar AS pada awal September lalu, rupiah mendadak anjlok ke kisaran Rp 13.400-13.500 per dolar AS mulai Kamis (28/9). Kondisi ini membuat rupiah masuk deretan mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS secara tahun berjalan atau year to date (ytd).

Hingga Jumat (29/9) siang ini, rupiah melemah 0,07% terhadap dolar AS (ytd), berbanding terbalik dengan Bath Thailand yang menguat 6,88% dan ringgit Malaysia 5,78%. Analis Pasar Keuangan Bank Mandiri Reny Eka Putri mengakui rupiah tergolong mata uang yang rentan terhadap gejolak eksternal.

Menurut dia, hal itu terjadi karena besarnya modal asing di pasar keuangan dalam negeri. "Porsi pemain asing masih cukup banyak di market (mereka rentan) melakukan aksi profit taking (ambil untung). Selain itu, size financial market Indonesia masih relatif rendah sehingga masih cukup rentan terhadap gejolak eksternal," kata Reny kepada Katadata, Jumat (29/9). (Baca juga: Dana Asing Deras, Net Kewajiban Investasi Indonesia Naik US$ 15,6)

Adapun saat ini, ia berpendapat ada tiga kondisi eksternal yang mempengaruhi pasar keuangan dan mata uang dunia. Pertama, rencana reformasi pemotongan tarif pajak (tax reform cut plan) oleh pemerintahan Donald Trump. Kedua, rencana bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) memangkas neraca keuangannya (balance sheet) pada Oktober ini, mulai dari US$ 10 miliar per bulan. 

Ketiga, kepastian The Fed menaikkan bunga acuan sebesar 0,25% lagi di akhir tahun ini. Sebelumnya, Gubernur The Fed Janet Yellen mengisyaratkan soal perlunya kenaikan bunga bertahap di tengah tingginya ketidakpastian inflasi di negara tersebut. "Ketiga faktor ini membuat dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah," kata dia.

Meski begitu, menurut Reny, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak akan berlangsung lama. Hal itu karena kondisi fundamental Indonesia masih positif. Apalagi, pekan depan juga akan dirilis inflasi September, yang menurut perkiraannya masih akan rendah. "Harapannya, itu akan menjadi katalis positif bagi rupiah," ucapnya.

Di sisi lain, Kepala Riset Monexindo Ariston Tjendra menilai indeks daya saing Indonesia yang rendah menjadi salah satu penyebab nilai tukar rupiah lebih lemah secara tahun berjalan. "Indeks competitiveness Indonesia masih di bawah Thailand," tutur dia.

Adapun kuatnya tekanan belakangan ini diduga dipengaruhi pula oleh sentimen domestik terkait informasi meningkatnya risiko utang PT Perusahaan Listrik Negara. "Mungkin karena isu utang PLN kemarin yang menimbulkan sentimen negatif ke rupiah. Pasar menjadi khawatir mengenai manajemen utang pemerintah," kata dia. (Baca juga: Masalah Keuangan PLN Dikhawatirkan Bisa Pengaruhi Rating Utang RI)

Video Pilihan

Artikel Terkait