ADB: Perbaikan Ekonomi Tiongkok Dorong Lonjakan Ekspor Asia

Ekonomi Tiongkok diprediksi bisa tumbuh 6,7% tahun ini, lebih tinggi dari prediksi awal yang sebesar 6,5%. Hal itu seiring kebijakan fiskal yang ekspansif.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
26 September 2017, 13:46
Pelabuhan ekspor
Katadata

Asian Development Bank (ADB) menyebut prospek pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang di Asia membaik seiring meningkatnya kinerja ekspor. Penyokongnya, kenaikan permintaan dari Tiongkok seiring membaiknya ekonomi di negara tersebut.

Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada menjelaskan, kinerja ekspor di Asia menunjukkan perbaikan, setelah dua tahun mengalami penurunan akibat merosotnya harga komoditas dan lesunya permintaan manufaktur. Menurut catatannya, delapan negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market) terbesar di Asia mengalami kenaikan riil ekspor manufaktur.

"Harapan pertumbuhan negara berkembang di kawasan Asia kian membaik, ini didukung oleh kebangkitan perdagangan dunia dan momentum yang kuat dari Cina," ujar Yasuyuki saat memaparkan laporan Asian Development Outlook 2017 di Jakarta, Selasa (26/9). Dalam lima bulan pertama tahun ini, ekspor di kawasan Asia tercatat meningkat 11%.

 

(Baca juga: BI Ramal Ekonomi Membaik Disokong Peningkatan Ekspor ke Tiongkok)

Dengan perkembangan tersebut, ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia mencapai 5,9% tahun ini dan 5,8% tahun depan. Pertumbuhan juga disokong langkah pemerintahnya mereformasi kebijakan guna meningkatkan produktivitas, berinvestasi pada infrastruktur, dan mempertahankan manajemen makroekonomi untuk meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Adapun ekonomi Tiongkok diprediksi bisa mencapai 6,7% tahun ini, lebih tinggi dari prediksi awal yang sebesar 6,5%. Perekonomian Negeri Tirai Bambu tersebut seiring kebijakan fiskal yang ekspansif dan permintaan eksternal yang tidak terduga. Namun, tahun depan, ekonomi Tiongkok justru diprediksi melambat menjadi 6,4% karena mulai berjalannya reformasi untuk memangkas kelebihan kapasitas industri dan mengurangi risiko keuangan.

Yasuyuki menambahkan, kebijakan fiskal yang longgar di Amerika Serikat (AS) dan pelemahan harga minyak juga berpotensi mengangkat prospek ekonomi di kawasan Asia. Namun, tetap ada risiko yang perlu diwaspadai seperti likuiditas global yang mengetat imbas kebijakan moneter yang diterapkan negara maju, gangguan ekonomi akibat peristiwa geopolitik, atau bencana akibat cuaca. (Baca juga: Korut Ancam Ledakkan Bom Hidrogen, Bursa Saham Asia Merah, Emas Naik)

"Mengingat tingkat suku bunga jangka panjang di berbagai perekonomian Asia terkait erat dengan tingkat suku bunga di AS, para pengambil kebijakan perlu semakin memperkuat posisi keuangannya dan memantau taraf utang serta harga aset," ujar dia.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi India diprediksi tetap tinggi meski tak setinggi prediksi awal. ADB memproyeksikan ekonomi India tumbuh 7% tahun ini, menurun dibanding proyeksi sebelumnya yaitu 7,4%. "Tahun depan juga proyeksi kami menurun dari 7,6% menjadi 7,4% untuk India," kata Yasuyuki.

Adapun pelaksanaan rezim pajak barang dan jasa yang baru di India diakui berisiko menurunkan belanja konsumen dan investasi usaha. Namun, risiko tersebut diyakini akan mereda sehingga memungkinkan India tetap tumbuh tinggi.

Untuk Asia Tenggara, ADB memprediksi ekonominya bakal menguat dari 5% pada 2017 menjadi 5,1% pada 2018. Peningkatan ekspor dari Singapura dan Malaysia akan menjadi ujung tombak pertumbuhan kawasan ini. Sementara prakiraan bagi Indonesia tidak berubah yakni 5,1% tahun ini, di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2%. (Baca juga: Kurs Rupiah Menguat, BI Yakin Tak Ganggu Daya Saing Ekspor)

Sementara itu, pertumbuhan Asia Tengah diprediksi lebih baik dari perkiraan awal di tengah stabilnya harga minyak. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi untuk kawasan Pasifik diproyeksi sedikit lebih rendah tahun depan. Penyebabnya, pertumbuhan dua perekonomian terbesar di Pasifik yakni Papua Nugini dan Timor Leste masih tetap sama.

Video Pilihan

Artikel Terkait