Beralih ke Digital, Bank Bakal Rekrut Lebih Banyak Ahli Teknologi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan pengkajian untuk menentukan edukasi dan sertifikasi baru bagi pegawai bank di masa depan.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
22 September 2017, 17:37
Internet digital
Arief Kamaludin|KATADATA

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perbankan semakin gencar mengembangkan layanan berbasis digital. Kondisi ini disebut-sebut bakal mengubah kebutuhan tenaga kerja di sektor perbankan. Pekerjaan seperti teller dan analis kemungkinan semakin sedikit dibutuhkan. Sebaliknya, orang yang paham atau ahli di bidang teknologi bakal banyak direkrut.

Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Achmad Baiquni tak menampik soal perubahan yang bakal terjadi. "Tentunya (ada penyesuaian tenaga kerja). Banyak proses-proses kami lakukan business enginering, contohnya big data. Mungkin keberadaan analis sudah enggak, karena sistem yang buat big data-nya. SDM (Sumber Daya Manusia) tetap butuh tapi bidang yang lainnya," katanya di sela-sela acara Indonesia Development Bank Expo (IDBExpo) di Jakarta, Rabu (20/9) lalu.

(Baca juga: OJK Siapkan Antisipasi 'Musnahnya' Pekerjaan di Bank)

Hal senada disampaikan Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas. Menurut dia, jumlah tenaga kerja di bank pelat merah tersebut akan bertambah namun untuk jenis pekerjaan yang berbeda. "(Tenaga kerja) harusnya nanti ada penyesuaian dalam arti jenisnya. Misalnya, dulu banyak teller, sekarang sudah enggak diperlukan. Sekarang lebih programing atau clouding. Secara jumlah (tenaga kerja) tetap bertumbuh tapi jenisnya beda," kata dia.

Adapun digitalisasi dinilai Rohan harus dilakukan untuk menjawab kebutuhan nasabah Bank Mandiri yang kini telah mencapai 14 juta nasabah. Ke depan, Bank Mandiri mengarah pada pengembangan sistem robotik dan big data. (Baca juga: Bank Khawatir Fintech Asing Kuasai Pasar, BI Janji Jaga Persaingan)

Perubahan kebutuhan tenaga kerja di sektor perbankan mendapat perhatian khusus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Penelitian Bank Umum OJK Antonius Harie mengatakan, institusinya tengah mengumpulkan data Sumber Daya Manusia (SDM) di seluruh perbankan. Tujuannya, untuk menentukan edukasi dan sertifikasi yang diperlukan di masa mendatang.

Harapannya, edukasi bisa mengantisipasi ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ataupun penurunan penyerapan lapangan kerja di sektor perbankan. "Mungkin ini (ahli teknologi) nanti yang jadi porsi besar. Jadi pegawai porsi bank lebih banyak ke arah itu. Kami akan data, edukasi dan sertifikasi apa yang harus dilakukan," kata dia.

Sebelumnya, pada Maret lalu, Citigroup mengeluarkan riset yang menyebutkan bahwa 30% pekerjaan perbankan diprediksi hilang selama satu dekade mendatang. Perbankan juga akan semakin banyak menggunakan robot dalam melakukan berbagai pekerjaan.

Dalam wawancara khusus dengan Katadata beberapa waktu lalu, Head of Digital Banking PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto mengatakan layanan digital memang bakal semakin berkembang. Trennya, bank mengembangkan bank digital sehingga kebutuhan akan bank fisik bakal semakin menyusut.

Saat ini, terdapat dua bank yang sudah mengoperasikan bank digital di Tanah Air yaitu DBS Indonesia dengan Digibank-nya, serta Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan Jenius. Bank Central Asia (BCA) juga berencana mengakuisisi bank kecil untuk dijadikan bank digital. Adapun Digibank dilengkapi teknologi artificial intelligence yang siap membantu menjawab pertanyaan nasabah layaknya petugas bank.

Leonardo mengatakan, bank digital bakal membuat biaya bisnis bank semakin efisien. “(Dengan Digibank) kami tidak perlu orang yang banyak, cabang yang banyak, sales agent yang banyak, maka kami menyalurkan penghematan biaya untuk meningkatkan layanan ke nasabah,” kata dia.

Video Pilihan

Artikel Terkait