Korut Ancam Ledakkan Bom Hidrogen, Bursa Saham Asia Merah, Emas Naik

Nilai tukar Yen Jepang menguat terhadap dolar AS dan harga emas naik. Investor diduga mencari aset-aset yang aman.
Martha Ruth Thertina
Oleh Martha Ruth Thertina
22 September 2017, 13:05
Bursa saham
Katadata | Arief Kamaludin

Mayoritas indeks di bursa saham Asia jatuh setelah pemerintah Korea Utara menyatakan bakal membalas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghancurkan negara tersebut. Balasan bisa berupa uji coba bom hidrogen di Samudra Pasifik. Seiring perkembangan tersebut, nilai tukar Yen Jepang dan harga emas naik, diduga lantaran investor mencari aset yang aman.

Siang ini, indeks Nikkei 225 dan Topix (Tokyo) di Jepang tercatat turun masing-masing 0,24% dan 0,29%. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,84%, indeks Hang Seng di Hong Kong anjlok 0,85% dan indeks CSI 300 di Tiongkok turun 0,48%. Adapun penurunan indeks di Hong Kong dan Cina juga menyusul pemangkasan peringkat utang jangka panjang dua negara tersebut oleh lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s.

Mayoritas indeks saham di negara-negara berkembang di Asia juga mengalami penurunan. Hal tersebut tampak dari MSCI Asia Pacific yang anjlok 0,75%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tercatat bergerak di jalur merah sejak awal perdagangan. Indeks ditutup turun 0,03% ke level 5.904 pada sesi pertama.

Sebelumnya, dalam wawancaranya dengan reporter televisi Korea Selatan, Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho mengatakan balasan dari Presiden Kim Jong Un atas ancaman AS bisa saja berupa uji coba besar bom hidrogen di Samudra Pasifik. “Kami tidak memiliki ide akan sebesar apa (balasannya),” kata dia seperti dikutip Bloomberg, Kamis (21/9). Menurut Ri, balasan tersebut merupakan keputusan Kim.

Ancaman bom hidrogen Korut memecah perhatian pelaku pasar yang sepanjang pekan berfokus pada kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Adapun The Fed akhirnya memutuskan untuk menahan bunga dananya (Fed Fund Rate) di level 1,25-1,5% seiring data ekonomi yang belum sesuai target. Namun, mulai Oktober, The Fed bakal memangkas secara bertahap neraca keuangannya (balance sheet).

Saat ini, The Fed tercatat memegang portofolio sebesar US$ 4,5 triliun, mayoritasnya adalah surat utang pemeritah AS atau US treasury. The Guardian melaporkan, kebijakan moneter The Fed tersebut direspons pasar dengan baik, tercermin dari indeks yang ditutup sedikit naik di New York.

Namun, indeks saham berjangka AS anjlok setelah muncul laporan soal ancaman bom hidrogen. Siang ini, Dow Jones mini futures turun 0,21%, S&P 500 mini turun 0,24%, dan Nasdaq 100 mini turun 0,33%.

Di sisi lain, Bloomberg memberitakan mata uang Yen Jepang dan emas mengalami kenaikan, diduga lantaran investor mencari aset-aset yang dinilai aman. Yen tercatat menguat 0,58% terhadap dolar AS, sedangkan harga emas berjangka di divisi Comex New York untuk kontrak Desember 2017 naik 0,46% menjadi US$ 1.300 per troy ounch.

Video Pilihan

Artikel Terkait