Kurs Rupiah Menguat, BI Yakin Tak Ganggu Daya Saing Ekspor

Bank Indonesia (BI) memastikan nilai tukar rupiah saat ini tidak merugikan daya saing ekspor dan meningkatkan impor secara berlebihan.
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
15 September 2017, 20:58
Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Nilai tukar rupiah tercatat menguat ke kisaran Rp 13.100-13.200 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai Jumat (8/9). Sebelumnya, rupiah bertengger di kisaran Rp 13.300-an. Bank Indonesia (BI) memastikan rupiah berada pada level yang kompetitif alias berdaya saing.  

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo menjelaskan pihaknya memiliki ukuran untuk mengetahui level nilai tukar yang kompetitif. “Kami ukur dengan suatu ukuran (sehingga) tidak merugikan daya saing ekspor dan meningkatkan impor secara berlebihan,” kata Dody di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (15/9).

Ia pun menekankan nilai tukar rupiah saat ini juga sesuai dengan fundamental ekonomi. Adapun, fundamental ekonomi bisa saja berubah sehingga mempengaruhi nilai tukar. “Kami tidak punya target level tetapi dalam operasional kami, kami terus jaga dalam range (rentang) tertentu,” ucapnya. (Baca juga: Kurs Rp 13.100 per Dolar AS, Tertinggi dalam 10 Bulan Terakhir

Menurut Dody, penguatan nilai tukar rupiah beberapa waktu belakangan ini lebih disebabkan oleh melemahnya dolar AS. Hal itu seiring dengan kondisi perekonomian AS yang belum menunjukkan perbaikan sesuai harapan. Alhasil, kebijakan moneter di Negeri Paman Sam tersebut juga kemungkinan belum akan berubah.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap agar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu kuat. Sebab, hal tersebut dapat berdampak pada aktivitas perdagangan internasional Indonesia. (Baca juga: Neraca Dagang Agustus Surplus US$ 1,72 Miliar, Tertinggi Sejak 2012)

Ia menjelaskan, menguatnya rupiah bisa menguntungkan berbagai pihak. Namun, bila terlalu kuat bisa merugikan para eksportir. "Kalau rupiah menguat memang profit yang didapat eksportir dalam rupiah itu menurun," ucapnya.

Kendati demikian, ia menilai level rupiah saat ini belum memberi pengaruh besar terhadap keuntungan ekspor. “Rasanya masih ada ruang (penguatan) sedikit lagi, tapi enggak banyak,” ujarnya.

Mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup Rp 13.240 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/9) atau menguat 0,08% dibanding penutupan sehari sebelumnya. Adapun rupiah sempat menguat ke level Rp 13.156 pada Senin (11/9). Level tersebut merupakan yang terkuat dalam 10 bulan belakangan.

Video Pilihan

Artikel Terkait