Harga Bitcoin Anjlok Usai Dilarang Tiongkok, BI Berikan Peringatan

Harga Bitcoin menyusut lebih dari 30% dari level tertingginya US$ 4.880 pada Jumat (1/9). Namun, Bitcoin sudah naik lebih 250% sepanjang tahun.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
15 September 2017, 19:27
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA
Dolar

Harga Bitcoin jatuh lebih dari 20% ke kisaran US$ 3.000 sepekan ini setelah bursa online mata uang virtual atau cryptocurrency terbesar di Tiongkok, BTC China, mengumumkan bakal menutup perdagangan pada akhir September ini lantaran adanya larangan dari pemerintah negara tersebut.

Menanggapi informasi tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng meminta masyarakat berhati-hati dengan mata uang virtual. “Segala risiko ditanggung oleh pemilik. Berbagai risiko yang ada pada penggunaan Bitcoin, misalnya fluktuasi nilai tukar yang volatile (bergejolak),” kata dia kepada Katadata, Jumat (15/9).

Selain itu, menurut dia, Bitcoin juga rawan digunakan sebagai sarana pencucian uang lantaran identitas kepemilikan yang disamarkan. Pertanggungjawaban atas pengelolaan dana yang disetor dan diubah menjadi Bitcoin juga dinilai tidak jelas.

Ia pun menekankan, rupiah adalah satu-satunya mata uang yang berlaku sah di Indonesia. Mata uang virtual seperti Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah. (Baca juga: Startup Singapura Rilis Kartu Bitcoin untuk Belanja di Toko Retail)

“Sesuai Peraturan Bank Indonesia tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, telah ditegaskan larangan untuk diproses oleh penyelenggara jasa sistem pembayaran yang berizin dari BI,” kata dia.

Katadata mencatat, harga Bitcoin telah menyusut lebih dari 30% menjadi US$ 3.391 pada Rabu (14/9) dari level tertingginya US$ 4.880.85 pada Jumat (1/9). Adapun dalam rupiah, harga 1 Bitcoin setara Rp 44,9 juta saat ini.

Kendati telah turun cukup signifikan sepanjang bulan ini, tapi para penambang Bitcoin masih membukukan keuntungan lebih dari 256% sepanjang 2017. Penyebabnya, harga Bitcoin hanya US$ 952,01 pada akhir tahun lalu. Lonjakan harga tersebut terjadi di tengah penerimaan yang lebih besar terhadap teknologi blockchain, ketidakpastian politik global, dan meningkatnya minat di Asia.

Merespons lonjakan harga Bitcoin, CEO salah satu bank terbesar di Amerika Serikat, JP Morgan Chase, Jamie Dimon sempat melontarkan kritikan kerasnya. Ia menyebut Bitcoin sebagai bentuk fraud atau penipuan. “(Bitcoin) bukanlah hal yang nyata,” kata dia seperti dikutip CNBC. “Seseorang akan ‘terbunuh’ (jadi korban).”

Komentar tersebut langsung menuai pro dan kontra. Para pendukung cryptocurrency menyerang balik pernyataan Dimon. “Anda harus memiliki pikiran yang terbuka untuk melihat masa depan,” kata Fred Wilson dari Union Square Ventures dan salah satu investor pertama di start up terkait Bitcoin.

Video Pilihan

Artikel Terkait