Pemerintah Perlu Waspada, Inflasi Inti Agustus Terendah dalam 14 Tahun

Penurunan inflasi inti perlu mendapat perhatian sebab sedikit banyak menunjukkan daya beli masyarakat (real demand).
Martha Ruth Thertina
4 September 2017, 19:13
Belanja konsumen
Arief Kamaludin|KATADATA

Inflasi inti terus mengalami penurunan. Kepala Analis Bank Tabungan Negara (BTN) Winang Budoyo menyebut inflasi inti pada Agustus 2017 merupakan yang terendah dibanding Agustus dalam 14 tahun terakhir. Kondisi inflasi inti dinilai perlu mendapat perhatian lantaran sedikit banyak menunjukkan daya beli masyarakat (real demand).

Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component). Inflasi ini di luar inflasi terkait harga pangan bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Winang menjelaskan, inflasi inti meningkat sejak 2009 seiring dengan lonjakan harga komoditas (commodity boom) yang mendorong daya beli masyarakat. Setelah itu, inflasi inti stabil sepanjang 2015.

Menurut dia, penurunan inflasi inti mulai terlihat pada Desember 2015 dan terus menunjukkan tren menurun sampai Agustus 2017. Penurunan inflasi inti sejalan dengan laporannya sebelumnya bahwa konsumsi rumah tangga, khususnya piranti rumah tangga dan peralatan rumah tangga mengalami penurunan pertumbuhan sejak 2015. Penyebabnya, penurunan pendapatan riil mayoritas pekerja Indonesia.

"Bila hal ini dibiarkan lebih lama maka daya beli masyarakat akan semakin merosot dan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi rumah tangga menjadi tidak ada hasilnya,” demikian tertulis dalam kajian Winang, Senin (4/9). (Baca juga: Konsumsi Masyarakat Tertahan, Laju Ekonomi Diprediksi Maksimal 5,05%)

Ia menduga, turunnya pertumbuhan real demand inilah yang membuat BI menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate 0,25% menjadi 4,5% pada Agustus lalu. "Belum terlihatnya kejutan dari faktor global, terutama dari kebijakan moneter The Fed (bank sentral Amerika Serikat (AS), membuat faktor dalam negeri menjadi pendorong utama kebijakan BI selanjutnya," kata dia.

Dengan perkembangan terkini inflasi inti ia melihat terbuka peluang BI untuk menurunkan bunga acuan satu kali lagi sebesar 0,25% menjadi 4,25% pada September ini. Menurut dia, penurunan tersebut akan dipertahankan sampai semester I 2018. Hal tersebut dilakukan BI untuk dapat terus mendorong proses intermediasi perbankan, terutama dalam penyaluran kredit.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi inflasi negatif atau deflasi sebesar 0,07% pada Agustus ini. Deflasi ini merupakan yang kedua tahun ini, sebelumnya terjadi deflasi 0,02% pada Maret lalu. Winang memaparkan, deflasi pada bulan maret disebabkan oleh turunnya harga-harga makanan akibat puncak masa panen, sementara deflasi pada Agustus ini disebabkan oleh turunnya harga-harga yang sempat naik pada bulan Ramadan dan Idul Fitri, seperti harga makanan dan tarif transportasi.

Dibentuknya Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID), kata Winang, tampaknya telah berhasil menjaga harga pangan. Hal ini ditandai dengan volatile food  yang tercatat deflasi 0,87%. Di sisi lain, administered price deflasi 0,48%. Hal ini, menurut dia, sebagai efek tidak jadi dinaikkannya tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) di semester II. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,28%, lebih rendah dibanding Agustus 2016 yang sebesar 0,36%.  (Baca juga: Agustus Deflasi, BPS: Ini Prestasi Pemerintah Menjaga Harga)

Video Pilihan

Artikel Terkait