Transaksi Fintech Diprediksi Naik 24% Jadi Rp 249 Triliun Tahun Ini

Teknologi finansial alias financial technology (fintech) berperan dalam membuka akses masyarakat luas terhadap layanan keuangan.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
28 Agustus 2017, 16:25
Fintech
Arief Kamaludin | Katadata

Seiring dengan semakin banyaknya layanan teknologi keuangan (Financial Technology/Fintech), Bank Indonesia (BI) memprediksi transaksi keuangan melalui fintech bakal mencapai US$ 18,7 miliar atau sekitar Rp 249 triliun tahun ini. Jumlah itu meningkat lebih 24% dibandingkan perkiraan transaksi tahun lalu.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara merinci, tahun lalu, transaksi melalui fintech diperkirakan sebesar US$ 15 miliar atau sekitar Rp 200 triliun. "Pada 2017, total nilai transaksi di pasar fintech diproyeksikan mencapai US$ 18,65 miliar," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara saat membuka seminar tentang ekonomi digital di Yogyakarta, Senin (28/8). 

Merespons besarnya transaksi keuangan melalui fintech, Mirza pun menekankan perlunya aturan detail untuk mengatur industri yang dimaksud. Tujuannya, membantu perusahaan fintech berinovasi mengembangkan usahanya dengan tetap melindungi konsumen. Dengan begitu, perannya juga semakin besar dalam mendorong perekonomian. (Baca juga: BI Segera Luncurkan Aturan ‘Sandbox’ untuk Menguji Fintech Baru)

Berdasarkan hasil penelitian McKinsey Global Institute pada 2016 lalu mengenai era baru globalisasi digital, ekonomi digital telah menyumbang setidaknya 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dengan nilai mencapai sekitar US$ 7,8 triliun atau Rp 104 ribu triliun selama satu dekade terakhir. (Baca juga: Pengusaha Tunggu Kiprah Jack Ma Sebagai Penasihat e-Commerce)

Menurut Mirza, BI juga mendukung fintech lantaran berperan penting dalam meningkatkan efisiensi dan kenyamanan masyarakat dalam bertransaksi keuangan, termasuk mendukung pembayaran non-tunai. Fintech juga berperan meningkatkan inklusi keuangan. Hal itu seiring dengan tingginya jumlah pengguna ponsel yang mencapai sekitar 371,4 juta orang dan tingginya penetrasi perangkat digital.

Menurut dia, kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan teknologi digital dapat menghilangkan hambatan orang-orang yang tidak berpendidikan untuk memperoleh akses finansial. Sebagai negara kepulauan, teknologi digital juga mampu mengantarkan layanan keuangan ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.

"Hal ini akan mendorong tercapainya target keikutsertaan masyarakat di keuangan nasional dari 36% di 2014 menjadi 75% pada 2019," kata Mirza. (Baca juga: Keluarkan Investasi Besar, Bank Berlomba Buat Layanan Digital)

Video Pilihan

Artikel Terkait