Keluarkan Investasi Besar, Bank Berlomba Buat Layanan Digital

Hanya dengan mengunduh aplikasi Digibank milik DBS atau Jenius milik BTPN di ponsel pintar (smartphone), masyarakat bisa membuat rekening bank tanpa harus mendatangi kantor cabang bank.
Martha Ruth Thertina
24 Agustus 2017, 18:14
Bank digital
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank terbesar asal Singapura, DBS Bank bakal berinvestasi sebesar S$ 20 juta atau sekitar Rp 196 miliar untuk meningkatkan kemampuan 10 ribu pegawainya di Singapura dalam bidang perbankan digital dan teknologi baru. Langkah tersebut diambil setelah bank meluncurkan bank digital: Digibank di India dan Indonesia.

“Langkah tersebut untuk mendukung visi otoritas moneter Singapura untuk menciptakan Smart Financial Centre dimana teknologi digunakan secara luas di industri finansial,” demikian pernyataan DBS, seperti dikutip Straitstimes  awal pekan ini. 

Rencananya, dana tersebut bakal digunakan untuk mengembangkan program belajar secara online yang bisa diakses pegawai selama 24 jam dalam sehari, pendampingan serta pendanaan untuk pengembangan prototipe teknologi, beasiswa, hingga ruang belajar yang inovatif di kantor.  

Tren layanan perbankan digital memang kian berkembang. Di Indonesia, sejumlah bank tercatat sudah mulai mengembangkan teknologi bank digital. Selain DBS dengan aplikasi Digibank-nya, ada juga Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan aplikasi Jenius.

Hanya dengan mengunduh aplikasi Digibank dan Jenius di ponsel pintar (smartphone), masyarakat bisa membuat rekening bank tanpa harus mendatangi kantor cabang bank. Masyarakat yang sudah menjadi nasabah bisa menikmati berbagai layanan lainnya.

Digibank misalnya, menawarkan transfer dana hingga ratusan juta tanpa biaya administrasi, deposito online, pengaturan anggaran, pembayaran tagihan, isi ulang pulsa, hingga asisten virtual 24 jam dalam sehari.

Untuk mengembangkan layanan perbankan digital di regional, DBS pernah melansir bahwa perusahaan telah berkomitmen untuk berinvestasi sebesar S$ 200 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun selama tiga tahun mulai 2014. Di sisi lain, BTPN disebut-sebut telah menginvestasikan lebih dari Rp 1,2 triliun untuk pengembangan platform digital dalam tiga tahun terakhir.

Selain Jenius, BTPN juga mengembangkan BTPN Wow! yang merupakan platform perbankan digital  untuk segmen ekonomi kecil seperti petani, nelayan, buruh, pekerja informal, dan para pedagang mikro. BTPN Wow! mengandalkan teknologi ponsel sederhana dan didukung jasa agen.  

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) juga tengah mempersiapkan langkah besar untuk pengembangan layanan perbankan digital. BCA berencana mengakuisisi bank kecil untuk dijadikan bank digital. Meski begitu, Sekretaris Perusahaan BCA Jan Hendra menjelaskan, pihaknya belum memutuskan arah pengembangan bank kecil yang akan diakuisisi tersebut.

“Maksudnya kan beragam ya untuk pengertian digital bank. Bisa saja tanpa physical branch (kantor cabang fisik) sama sekali. Kami belum putuskan formatnya seperti apa,” kata dia kepada Katadata, Kamis (24/8).

Yang jelas, menurut Jan, transaksi perbankan melalui layanan digital telah mendominasi transaksi di BCA. “Sekitar 96-97% transaksi dari jumlah frekuensi terjadi melalui layanan digital kami selama semester I 2017,” kata dia. Layanan digital yang dimaksud seperti melalui internet banking, mobile banking dan ATM.

Video Pilihan

Artikel Terkait