BI Pesimistis Pertumbuhan Kredit Bank Tahun Ini Lampaui 10%

BI menyiapkan sederet langkah untuk menggenjot penyaluran kredit, di antaranya menurunkan bunga acuan dan merelaksasi ketentuan mengenai uang muka kredit.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
23 Agustus 2017, 11:08
Bank
Agung Samosir | Katadata

Bank Indonesia (BI) merevisi turun prediksi pertumbuhan kredit perbankan dari sebesar 10-12% menjadi hanya 8-10% tahun ini. Revisi tersebut dilakukan lantaran pertumbuhan kredit tercatat masih lemah sepanjang paruh pertama tahun ini.

"Alasan utama kami menurunkan karena perkembangan sampai Juni menunjukkan bahwa pertumbuhan sejak awal tahun (year to date/ytd) dari kredit di bawah 3%," kata Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo di Kantornya, Jakarta, Selasa (22/8).

Selain itu, menurut Agus, revisi turun juga dengan memperhatikan rencana bisnis bank dan kondisi ekonomi. Hingga kini, perbankan disebut-sebut masih dalam fase konsolidasi lantaran rasio kredit seret (Non Performing Loan/NPL) gross masih di posisi 3%. Imbasnya, bank diprediksi masih akan pilah-pilih kredit ke sektor yang dianggap risikonya rendah. Alhasil, ekspansi kredit perbankan menjadi terbatas. 

Adapun untuk menggenjot penyaluran kredit, BI telah memangkas lagi bunga acuan BI 7 Days Repo Rate sebesar 0,25% menjadi 4,5%. Selain itu, menyesuaikan suku bunga operasi moneter lainnya mulai dari yang semalam (overnight) hingga yang setahun. (Baca juga: Dongkrak Ekonomi, BI Akhirnya Pangkas Bunga Acuan Jadi 4,5%)

"Struktur suku bunga operasi moneter pun menurun. Bahkan yang jangka panjang penurunannya bisa lebih besar. Maka akan memaksa perbankan salurkan kredit dengan likuiditas yang ada," kata Deputi Gubernur Senior BI Perry Warjiyo.

Ia menambahkan, BI juga berencana merelaksasi kebijakan makroprudensial seperti rasio kredit terhadap nilai agunan (Loan to Value/LTV) sehingga besaran uang muka kredit properti dan otomotif bisa disesuaikan dengan kondisi daerah. (Baca juga: BI Godok Aturan Uang Muka Rumah dan Kendaraan Sesuai Wilayah)

Selain itu, BI juga tengah melihat kemungkinan untuk memasukkan surat utang alias obligasi dalam perhitungan rasio kredit terhadap pendanaan (Loan to Financing Ratio/LFR). Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit.

"Kami juga dorong bagaimana bank bisa biayai perekonomian bukan hanya kredit tapi juga sekuritas dari sisi pembiayaan ekonomi," kata dia.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara mengatakan penurunan BI 7 Days Repo Rate sebesar 1,5% pada 2016 lalu, sudah berhasil menurunkan suku bunga perbankan. Dari sisi bunga kredit, misalnya, sudah turun 1,1%. Sedangkan untuk bunga deposito sudah turun 1,45%.

Video Pilihan

Artikel Terkait