Ada Ruang Pelonggaran Moneter, BI Pantau Perkembangan Bunga AS

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan memperhitungkan, bila inflasi di kisaran 3%, maka ada ruang penurunan BI 7 Days Repo Rate hingga 1%.
Desy Setyowati
15 Agustus 2017, 21:06
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut masih ada ruang pelonggaran moneter seiring dengan rendahnya inflasi pada Semester I 2017. Namun, Bank Indonesia (BI) menyatakan pihaknya masih harus mempertimbangkan risiko eksternal untuk memutuskan kebijakan moneternya.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, ada beberapa kondisi yang masih dipantau BI. Dari sisi eksternal, BI mencermati kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

“Beberapa risiko yang mungkin memicu (ketidakstabilan) di stabilitas moneter, perlu diperhatikan dari sisi eksternal seperti kebijakan moneter di AS,” kata dia kepada Katadata, Selasa (15/8). The Fed berencana kembali menaikkan bunga dananya (Fed Fund Rate) dan mulai mengurangi neraca keuangannya.

Berdasarkan kajiannya, Dody menjelaskan, data perekonomian AS beragam, ada yang positif dan negatif. Maka itu, belum ada kepastian mengenai kenaikan Fed Fund Rate dalam waktu dekat. Adapun kebijakan bunga The Fed mempertimbangkan dua data utama yaitu inflasi dan tingkat pengangguran.

Dalam penyataannya belakangan ini, Gubernur The Fed Janet Yellen masih optimistis dengan data inflasi di negara tersebut. “Meskipun pasar melihat realisasi inflasi masih rendah sehingga tidak perlu menaikkan Fed Fund Rate,” kata Dody.

Di sisi lain, ia menerangkan, BI juga memantau perkembangan inflasi dan nilai tukar rupiah. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi per Juli sebesar 3,88% secara tahunan (year on year/yoy). Posisi inflasi ini masih sesuai target pemerintah dan BI yakni 4% plus minus 1%. Sedangkan untuk nilai tukar rupiah, BI mencatat rupiah menguat 0,52% terhadap dolar AS sejak awal tahun hingga 7 Juli 2017. 

Meski ada ruang pelonggaran moneter, namun Dody enggan merinci bentuk kebijakan pelonggaran moneter yang bisa diambil BI. Alasannya, kebijakan moneter harus didiskusikan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang bakal digelar pada 21-22 Agustus mendatang. “Pelonggaran (moneter) itu bagian dari diskusi di RDG Agustus next week. Tunggu setelah RDG,” kata dia.

Sebelumnya, Menko Darmin menyebut masih ada ruang pelonggaran moneter berupa penurunan bunga acuan alias BI 7 Days Repo Rate yang saat ini di level 4,75%. Namun, ia mengakui, BI memang masih harus mempertimbangkan risiko eksternal, di antaranya kebijakan The Fed. (Baca juga: Darmin: Inflasi Rendah Bisa Dorong Pelonggaran Moneter)

Pengetatan moneter berupa kenaikan bunga dana dan pengurangan neraca oleh The Fed bisa memicu arus keluar dana asing (capital outflow) dari Indonesia. Sebab, investor jadi lebih tertarik menaruh dananya ke AS, karena dianggap lebih aman.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan memperhitungkan, bila inflasi di kisaran 3%, maka ada ruang penurunan BI 7 Days Repo Rate hingga 1%. Akan tetapi, ia juga mengamati risiko dari kebijakan moneter AS.

Atas dasar itu, ia memandang pelonggaran moneter bisa juga dilakukan dalam bentuk lain, misalnya dengan menurunkan uang muka kredit (loan to value/LTV) ataupun dengan memperkecil jarak antara masing-masing suku bunga operasi moneter. "Year curve-nya (suku bunga operasi moneter satu tahun) yang harus dilihat. Antar jangka waktu dipendekkan (jaraknya)," kata dia. (Baca juga: Survei BI: Kenaikan Harga Rumah Menengah dan Besar Kian Tipis)

Secara umum, ia memandang pelonggaran moneter semestinya akan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Sepanjang semester I 2017 ekonomi tumbuh di bawah ekspektasi yaitu hanya 5,01%. Dari sisi konsumsi rumah tangga, misalnya, pelonggaran moneter diharapkan bisa meningkatkan kredit. Apalagi saat ini perbankan juga memang mendorong penyaluran kredit konsumsi.

Namun, ia menekankan, meski ada pelonggaran moneter, bank juga masih dalam kondisi berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Hal itu lantaran masih tingginya rasio kredit seret (non performing loan/NPL). (Baca juga: OJK Akan Beri Kemudahan Restrukturisasi Kredit untuk Bank Tertentu)

Video Pilihan

Artikel Terkait