Jaga Daya Beli, Ekonom Imbau Pemerintah Cegah Pemangkasan Pekerja

Desy Setyowati
8 Agustus 2017, 17:46
Buruh Pabrik
ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Buruh pabrik garmen di Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/2).

Para ekonom menilai pemerintah perlu melakukan langkah segera untuk mendongkrak pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang terpantau stagnan. Sebab, pertumbuhan ekonomi banyak bergantung pada konsumsi rumah tangga.

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelisitianingsih berpendapat langkah yang bisa dilakukan pemerintah, di antaranya yaitu mengimbau para pengusaha agar tidak melakukan efisiensi tenaga kerja. “Kalau cut (pangkas) tenaga kerja, nanti konsumsi rumah tangga melambat ya ujung-ujungnya mereka enggak beli,” kata Lana kepada Katadata, Selasa (8/8).

Ia menduga, beberapa perusahaan yang menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan keuntungan di antaranya karena melakukan efisiensi tenaga kerja. Dia pun berharap, dengan imbauan pemerintah kepada pengusaha, pendapatan masyarakat tetap stabil dan bisa mendorong daya beli. Toh, daya beli yang stabil akan membantu penjualan industri. (Baca juga: Pemerintah Buat Program Ungkit Daya Beli Lewat Properti & Pertanian)

Selain itu, Lana menilai pemerintah perlu melakukan percepatan penyaluran bantuan sosial (bansos). Sebab, seperti dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, salah satu penyebab konsumsi rumah tangga tak sesuai harapan yaitu daya beli masyarakat kelas menengah bawah yang terganggu. Penyebabnya, antara lain kenaikan tarif listrik. Selain itu, upah riil petani dan buruh yang tercatat menurun.

Penyebab lainnya, masyarakat kelas menengah atas terindikasi menahan konsumsi lantaran khawatir dengan kondisi perekonomian ke depan. BPS pun mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya mencapai 4,95% pada kuartal II, nyaris stagnan dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,93%. Padahal, konsumsi rumah tangga semestinya meningkat pada kuartal II lalu lantaran ada Ramadan dan Lebaran.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal II tahun ini bahkan lebih rendah dibanding kuartal II tahun lalu yang sebesar 5,07%. Imbas pertumbuhan konsumsi yang lemah, pertumbuhan ekonomi tercatat hanya mencapai 5,01% sepanjang paruh pertama tahun ini. Padahal, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2% di keseluruhan tahun. (Baca juga: Masyarakat Rem Belanja, Target Pertumbuhan Ekonomi Terancam Meleset)

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) juga menilai pemerintah perlu mendorong agar dana desa yang sebesar Rp 60 triliun cepat dibelanjakan. Dengan begitu, daya beli masyarakat kelas menengah bawah diharapkan bisa kembali pulih.

Sementara itu, konsumsi kelas menengah atas masih sangat tergantung pada kepercayaan terhadap kondisi perekonomian ke depan. “Tapi mudah-mudahan membaik di akhir tahun” ucapnya. (Baca juga: Nasabah Ragu Ekonomi Baik, Tabungan Naik Rp 60 Triliun dalam Sebulan)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait