Genjot Penyaluran Kredit, BI Buka Peluang Pelonggaran Moneter

"Kalau lihat laporan keuangan mereka (perusahaan) sudah dapat keuntungan, tapi lebih karena efisiensi, bukan karena mereka peroleh potensi bisnis atau penjualan yang lebih besar dan kuat."
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
4 Agustus 2017, 19:53
Bank Indonesia
Donang Wahyu|KATADATA

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo membuka peluang pelonggaran moneter di kuartal III ini. Tujuannya untuk menggenjot penyaluran kredit perbankan yang masih lemah dan bisnis korporasi yang belum tumbuh signifikan. Dengan begitu, perekonomian diharapkan bisa melaju lebih kencang.

"Tidak tertutup kemungkinan BI akan easing (melakukan pelonggaran) untuk merespons dan membantu ekonomi supaya pertumbuhan ekonomi dan investasi terjaga. Namun ini semua tergantung data saat kami selenggarakan RDG (Rapat Dewan Gubernur)," kata Agus di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (4/8). BI akan kembali menggelar RDG pada pertengahan Agustus ini.

Ia mengakui sejumlah perusahaan berhasil mencetak keuntungan pada paruh pertama tahun ini. Tapi, menurut dia, hal itu lantaran perusahaan melakukan efisiensi. Bukan karena kegiatan bisnis yang meningkat.

"Kalau lihat laporan keuangan mereka sudah dapat keuntungan, tapi lebih karena mereka efisiensi, bukan karena mereka peroleh potensi bisnis atau penjualan yang lebih besar dan kuat. Kami lihat bank juga alami yang sama," ujar dia. (Baca juga: Enam Bulan Untung Rp 13,4 T, BRI Pimpin Perolehan Laba Perbankan)

Adapun penyaluran kredit juga tumbuh melambat. Per akhir Juni lalu pertumbuhannya tercatat hanya 7,6% secara tahunan, lebih rendah dibanding Mei lalu yang sebesar 8,7%. Meski begitu, ia melihat sudah ada kenaikan volume perdagangan dunia seiring dengan perbaikan ekonomi di Cina dan Eropa. Ia pun berharap, korporasi di Indonesia bisa memanfaatkan peluang tersebut dan permintaan kredit meningkat.

"Secara umum kalau bisnis sudah tumbuh, akan ciptakan permintaan kredit yang lebih tinggi maka akan ada pemulihan," ujar dia. Ia pun berharap pertumbuhan kredit bisa mencapai 10% pada akhir tahun nanti.

Adapun dari sisi makro, ia menyebut kondisinya positif. Inflasi, misalnya, tercatat hanya sebesar 0,22% secara bulanan (month to month). Bahkan inflasi saat Ramadan dan Idul Fitri lalu tercatat sebagai yang terendah sepanjang tiga tahun terakhir. Neraca Pembayaran Indonesia dan defisit transaksi berjalan juga membaik. (Baca juga: Darmin: Inflasi Juli Rendah Karena Masyarakat Hemat Setelah Lebaran)

Namun, ia mencatat modal asing yang masuk (capital inflow) ke pasar keuangan domestik juga menurun dibanding periode sama tahun lalu. Sepanjang tahun ini, ia mencatat dana asing masuk sebesar Rp 131 triliun, lebih rendah dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 134 triliun.

Video Pilihan

Artikel Terkait