Bank ANZ Siap Alihkan Bisnis Pengelolaan Kekayaan Hingga KPR ke DBS

"Kami bekerja dengan sangat erat bersama DBS untuk menjamin pengalihan ini akan berjalan lancar selancar mungkin untuk seluruh nasabah."
Desy Setyowati
1 Agustus 2017, 21:56
DBS bank
Katadata | Arief Kamaludin

Bank ANZ mulai mempersiapkan pengalihan binis ritel dan wealth management-nya kepada bank asal Singapura DBS Bank Ltd. Di dalam negeri, PT ANZ Indonesia sudah menyurati nasabahnya mengenai rincian proses pengalihan tersebut.

Dalam salinan surat yang diterima Katadata awal pekan ini, ANZ menyebutkan lima jenis produk dan layanan perbankan yang akan dialihkan yaitu kartu kredit; moneyline; pinjaman pribadi (personal loans); kredit pemilikan rumah (KPR); dan fasilitas pinjaman yang dijamin dengan standby letter of credit (SBLC).

ANZ memperkirakan proses pengalihan selesai pada Februari 2018. "Kami bekerja dengan sangat erat bersama DBS untuk menjamin pengalihan ini akan berjalan lancar selancar mungkin untuk seluruh nasabah," demikian tertulis. (Baca juga: ANZ Jual Rugi Lini Ritel Bank di Indonesia kepada DBS)

Nantinya, ketika pengalihan selesai, maka nasabah akan memeroleh akses ke jaringan Grup DBS yang memiliki lebih dari 280 kantor cabang, yang tersebar di 18 pasar termasuk 33 cabang di Indonesia.

Advertisement

Dalam surat tersebut, ANZ menjelaskan secara rinci mengenai proses pengalihan produk dan layanannya tersebut. Bank menyatakan bahwa kesepakatan antara nasabah dan bank terkait produk dan layanan perbankan akan dialihkan ke DBS. Namun, syarat dan ketentuan yang mengatur produk tersebut, termasuk biaya, manfaat, keistimewaan, dan fitur dipastikan tidak akan berubah.

Di sisi lain, kartu kredit dan kartu moneyline ANZ akan diganti oleh DBS setelah penyelesaian. Rincian dan jadwal penggantiannya akan dikomunikasikan kepada nasabah. Adapun, seluruh pinjaman nasabah akan dipindahkan ke rekening baru atas nama yang bersangkutan di DBS.

“Seluruh jumlah yang jatuh tempo dan terhutang kepada ANZ berdasarkan setiap pinjaman tersebut pada dan sejak penyelesaian akan menjadi terhutang kepada DBS,” begitu tertulis.

Nasabah bisa saja menolak bergabung dengan DBS dengan mengirimkan instruksi secara tertulis. Tapi, DBS tetap berhak bergantung pada setiap persetujuan, instruksi, konfirmasi, deklarasi, kewenangan atau mandat yang masih berlaku antara nasabah dengan ANZ. “Namun jika dirasa perlu, nasabah bisa bisa meminta DBS membuat kesepakatan baru setelah penyelesaian.”

Sementara itu, seluruh jaminan yang diberikan nasabah kepada ANZ akan dialihkan ke DBS. Setelah penyelesaian, DBS dapat meminta nasabah menandatangani dokumen lebih lanjut untuk melakukan tindakan lain yang mungkin diperlukan untuk memfasilitasi pengalihan tersebut.

ANZ pun menjamin akan terus bertanggung jawab atas kewajiban, tugas, dan tanggungjawabnya terkait produk dan layanannya sebelum ada penyelesaian. “ANZ berjanji akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan setiap permasalahan atau keluhan yang mungkin dimiliki nasabah.”

Tahun lalu, ANZ memutuskan untuk menjual bisnis ritel dan wealth management-nya di Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Taiwan, dan Indonesia kepada DBS Bank Ltd dengan nilai sekitar 110 juta dolar Singapura atau sekitar Rp 1 triliun.

Berdasarkan keterangan resmi DBS, khusus untuk pasar Indonesia, pihaknya bakal mendapat tambahan 410 ribu nasabah melalui aksi korporasi tersebut. DBS berharap transaksi tersebut bisa memperkuat kepemimpinan bank dalam layanan wealth management di Asia Pasifik.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait