Sistem Keuangan Stabil, KSSK Waspadai Daya Beli dan Risiko Kredit

"Kami perlu lihat daya beli masyarakat walau dalam hal ini inflasinya cukup rendah dibandingkan Lebaran tahun lalu," kata Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
28 Juli 2017, 16:19
KSSK
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kanan), dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad (kiri) selaku anggota KSSK memb

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan pada kuartal II 2017 lalu dalam kondisi normal. Hal tersebut berdasarkan hasil rapat pada Kamis (27/7). Namun, ada beberapa kondisi yang masih menjadi perhatian KSSK, di antaranya indikasi melemahnya daya beli masyarakat dan risiko kredit yang masih tinggi.

Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan penjualan ritel saat Ramadan dan Lebaran lalu tak sesuai ekspektasi. Maka itu, daya beli perlu dicermati. "Kami perlu lihat daya beli masyarakat walau dalam hal ini inflasinya cukup rendah dibandingkan Lebaran tahun lalu," kata dia usai melantik Eselon I di kantornya, Jakarta, Jumat (28/7). 

Pertumbuhan penjualan ritel diprediksi banyak pihak tak sesuai ekspektasi meski tekanan harga (inflasi) saat Ramadan dan Lebaran lalu terpantau lebih ringan dibanding periode sama tahun-tahun sebelumnya. Inflasi pada Juni lalu tercatat hanya 0,69% secara bulanan atau terendah selama Ramadan dan Lebaran tiga tahun terakhir. (Baca juga: Survei BI: Penjualan Retail Diprediksi Makin Lesu Setelah Lebaran)

Meski begitu, ia masih berharap daya beli tidak menurun sebab penerima program keluarga harapan (PKH) meningkat sementara jumlah penduduk miskin tetap. Artinya, ada tambahan pendapatan masyarakat yang bisa dibelanjakan. Hanya saja, ia pun menyadari adanya kalangan masyarakat yang terdampak oleh perubahan tarif listrik 900 Volt Ampere (VA).

Di sisi lain, KSSK masih mencermati pertumbuhan kredit dan risiko kredit perbankan. Per akhir Mei lalu, pertumbuhan kredit tercatat hanya 8,7% secara tahunan, melambat dari bulan sebelumnya yang sudah nyaris 10%. Sementara itu, rasio kredit seret (Non Performing Loan/NPL) tercatat masih tinggi yaitu di level 3,07%. (Baca juga: Tekan NPL di Bawah 3%, OJK Incar Bank dengan Pengelolaan Buruk)

Namun, secara umum, KSSK menilai stabilitas sistem keuangan normal ditopang oleh fundamental ekonomi yang terjaga baik seperti deflasi harga pangan, inflasi Lebaran yang rendah, dan peningkatan jumlah rekening simpanan yang signifikan. Selain itu, penerimaan perpajakan juga relatif stabil pada paruh pertama tahun ini.

Dari sisi eksternal, KSSK tetap memantau rencana kelanjutan kenaikan bunga dana dan pengurangan neraca bank sentral Amerika Serikat (AS). Selain itu, dipantau juga tentang arah kebijakan fiskal AS serta tekanan harga komoditas minyak mentah dan dinamika geopolitik global dan regional.

Dalam rapat pada Kamis (27/7), KSSK juga membahas tentang penguatan tata kelola manajemen krisis, di antaranya soal tindak lanjut pembentukan Sekretariat KSSK. Selain itu, KSSK menetapkan Protokol Manajemen Krisis yang mengatur pedoman dan tata cara dalam pencegahan dan penanganan krisis. Protokol tersebut akan melengkapi protokol manajemen krisis yang selama ini telah dikelola oleh masing-masing anggota KSSK.

Adapun ke depan, KSSK telah merencanakan sejumlah kegiatan. di antaranya simulasi penanganan krisis sistem keuangan pada September 2017, tindak lanjut perjanjian kerja sama program pengembangan kompetensi pegawai dan konsultasi dengan DPR mengenai peraturan pelaksana Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK).

Video Pilihan

Artikel Terkait