Penyaluran Kredit Anjlok 23%, Ini Cara Bank Permata Raup Laba Rp 621 M

Pendapatan operasional selain bunga bersih membaik menjadi minus Rp 1,94 triliun pada Juni 2017 dari sebelumnya minus Rp 4,15 triliun pada Juni 2016.
Martha Ruth Thertina
21 Juli 2017, 21:23
bank permata
Donang Wahyu|KATADATA

PT Bank Permata berhasil meraup laba bersih setelah pajak sebesar Rp 620,56 miliar sepanjang semester I 2017,  berbalik dari kondisi rugi Rp 835,67 miliar pada periode sama tahun lalu. Perusahaan berhasil meraup laba, meski penyaluran kredit anjlok 23% lantaran bank fokus bersih-bersih kredit seret.

Dalam siaran persnya, Bank Permata mengungkapkan, pencapaian tersebut merupakan hasil dari peningkatan kualitas aset, penjualan sebagian porsi aset bermasalah alias kredit seret (Non Performing Loan/NPL), pertumbuhan pendapatan komisi bancassurance dan pengelolaan biaya yang baik.

"Kami optimis kinerja Permata Bank dapat terus meningkat, dengan menjaga neraca keuangan yang positif seperti yang tercermin dalam dua kuartal ini. Kami akan terus menjalankan rencana kami agar bisa kembali menunjukkan kinerja yang lebih kuat tahun ini," kata Direktur Utama Bank Permata Ridha D.M. Wirakusumah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/7).

Berdasarkan laporan keuangan Bank Permata, total kredit seret bank memang telah banyak menyusut. Penurunan tersebut juga seiring dengan langkah perusahaan melikuidasi bertahap kredit bermasalahnya. Pada 4 Maret 2017, misalnya, bank melakukan penjualan kredit seret sebesar Rp 1,12 triliun. (Baca juga: Bank Permata Terbebani Kredit Macet Garansindo Rp 1,2 Triliun)

Secara rinci, total kredit seret bank telah susut 53,69% sepanjang paruh pertama tahun ini. Bila pada akhir Desember 2016 total kredit seret mencapai Rp 9,61 triliun, maka pada akhir Juni 2017 jumlahnya telah menyusut menjadi Rp 4,45 triliun. Alhasil, Rasio NPL perusahaan pun turun dari 8,83% menjadi 4,72%.

Di sisi lain, bank berhasil membukukan laba operasional sebesar Rp 728,48 miliar sepanjang semester I tahun ini, membaik dari kondisi rugi Rp 1,07 triliun pada periode sama tahun lalu. Penyokongnya, pendapatan operasional selain bunga bersih yang membaik menjadi minus Rp 1,94 triliun dari sebelumnya minus Rp 4,15 triliun.

Perbaikan utamanya karena adanya tambahan pendapatan dari penjualan aset keuangan berupa kredit sebesar Rp 634,20 miliar. Perbaikan juga seiring dengan beban operasional yang menyusut. Beban operasional berupa kerugian penurunan nilai kredit misalnya turun 59,14% menjadi Rp 1.276,59 triliun.

Selain itu, disokong pula oleh peningkatan pendapatan provisi dan komisi, serta pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai. Perbaikan tersebut pun mengompensasi penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 13,31% secara tahunan menjadi Rp 2,67 triliun.

Ke depan, Ridha optimistis perbaikan akan berlanjut. Apalagi, bank mendapat dukungan penuh dari kedua pemegang saham utamanya yaitu PT Astra International dan Standard Chartered Bank. Pada Juni lalu, keduanya menambah suntikan modal sebesar Rp 3 triliun. Alhasil, rasio kecukupan modal bank meningkat dari posisi 15,6% akhir tahun lalu menjadi 18,9% per Juni tahun ini.

Video Pilihan

Artikel Terkait