Bidik Pasar ASEAN dan Beli Sekuritas, BRI Rilis Obligasi Rp 5 Triliun

“Kami berharap masa due diligence (uji tuntas) dapat segera rampung, dan proses akuisisi bisa dituntaskan tahun ini juga,” kata Dirut BRI Suprajarto.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
10 Juli 2017, 12:26
Suasana Stan BRI
Arief Kamaluddin | Katadata

Bank Rakyat Indonesia (BRI) berancang-ancang untuk menerbitkan obligasi sebesar Rp 3-5 triliun melalui skema penawaran umum berkelanjutan (PUB) II tahap III Tahun 2017. Penerbitan obligasi tersebut seiring dengan rencana bank melakukan sederet aksi korporasi dari mulai akuisisi perusahaan hingga perluasan layanan di sejumlah negara ASEAN.

Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, pihaknya tertarik untuk mengakuisisi perusahaan ventura dan sekuritas. “Kami berharap masa due diligence (uji tuntas) dapat segera rampung, dan proses akuisisi bisa dituntaskan tahun ini juga,” kata dia seperti tertulis dalam keterangan pers yang diterima Katadata, Minggu (9/7).

Dalam waktu dekat, BRI juga berencana membuka unit kerja luar negeri di sejumlah negara ASEAN seperti Thailand dan Vietnam. Selain itu, mengubah unit kerja BRI di Hong Kong, agar bisa naik kelas menjadi full branch (kantor cabang penuh). Meski begitu, Suprajarto mengatakan, pihaknya masih perlu melakukan kajian mendalam mengenai rencana tersebut lantaran dana investasinya besar. (Baca juga: Incar Nasabah Buruh Migran, BRI Akan Ekspansi ke Taiwan)

Pada tahun ini, bank pelat merah tersebut juga berencana menyuntikkan modal untuk mendukung pengembangan anak usahanya yaitu perusahaan asuransi BRI Life. Sementara itu, untuk tahun depan, bank menargetkan anak usahanya yaitu BRI Syariah dan BRI Agro naik kelas menjadi bank bermodal menengah alias Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III yang bermodal inti antara Rp 3 triliun sampai kurang dari Rp 30 triliun. (Baca juga: Cari Modal Rp 3 Triliun, BRI Syariah IPO Tahun Depan)

Untuk jangka panjang, Suprajarto mengatakan, pihaknya berharap bisa meraih posisi sebagai The Most Valuable Bank in South East Asia pada 2022. Maka itu, BRI fokus pada penguatan bisnis utama (core business) yakni pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). BRI menargetkan penyaluran kredit ke UMKM mencapai 80 persen dari total kredit pada 2022 dan 40 persen diantaranya disalurkan ke segmen mikro.

"Visi ini (menjadi The Most Valuable Bank in South East Asia) bisa dicapai, dengan memperkuat core business BRI," ujar dia. "Oleh karena itu juga, BRI berkomitmen menyalurkan KUR (Kredit Usaha Rakyat), terutama kepada sektor produktif."

Adapun, KUR yang sudah disalurkan BRI sepanjang Januari sampai Juni tahun ini mencapai Rp 34,5 triliun dari target Rp 71 triliun hingga Desember nanti. Dari jumlah tersebut, komposisi penyaluran KUR mikro ke sektor produktif sebesar 40,1 persen.

Secara keseluruhan, Suprajarto mengatakan, kinerja BRI sepanjang tahun ini di atas rata rata industri perbankan. Hingga akhir April 2017, pertumbuhan kredit BRI mencapai 17,3 persen secara tahunan, atau di atas pertumbuhan industri yang sebesar 9,5 persen. Sementara itu, rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) bruto masih di bawah 2,1 persen atau lebih rendah dari NPL industri yang di kisaran 3 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan dana nasabah mencapai 11,5 persen, atau lebih rendah dari pertumbuhan penyaluran kredit. Meski begitu, pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan industri yang sebesar 9,8 persen.

Video Pilihan

Artikel Terkait