Korporasi Belum Ekspansi, Utang Swasta Diprediksi Tak Melonjak

"Saya kok lihatnya perusahaan di Indonesia secara umum masih dalam kondisi konsolidasi (sehingga belum akan menambah utang). Bank juga," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.
Desy Setyowati
3 Juli 2017, 19:36
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Utang swasta diperkirakan belum akan naik signifikan meski biaya utang disebut-sebut makin murah. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, korporasi belum membutuhkan dana besar untuk ekspansi bisnis sebab kondisi ekonomi masih diliputi ketidakpastian.

"Saya kok lihatnya perusahaan di Indonesia secara umum masih dalam kondisi konsolidasi (sehingga belum akan menambah utang). Bank juga," kata Agus usai acara halal bihalal di kantornya, Jakarta, Senin (3/7).

Ia menjelaskan, ketidakpastian ekonomi yang di antaranya tampak dari harga komoditas sumber daya alam (SDA) yang masih belum stabil. Harga minyak dunia, misalnya, kembali menurun meski sempat mengalami kenaikan. Dalam kondisi seperti ini, menurut dia, korporasi masih akan melakukan konsolidasi bisnis guna memastikan kondisi keuangannya dalam keadaan baik.

Sebelumnya bank-bank milik negara (BUMN) diberitakan gencar menerbitkan obligasi rupiah. Aksi korporasi ini dilakukan setelah lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) menaikkan peringkat kredit Indonesia ke level layak investasi (investment grade). Imbasnya, imbal hasil cenderung turun sehingga beban biaya yang ditanggung penerbit obligasi berkurang.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), misalnya, baru saja merampungkan masa penawaran awal obligasinya senilai Rp 3 triliun pada 16 Juni lalu. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga baru saja merampungkan masa penawaran awal penerbitan obligasinya senilai Rp 5 triliun. (Baca juga: Tren Imbal Hasil Turun, Empat Bank BUMN Berlomba Jual Obligasi)

Langkah BTN dan BNI menerbitkan obligasi ini seakan ingin mengekor kesuksesan saudaranya sesama bank BUMN, yaitu PT Bank Mandiri Tbk. Bank berlogo pita emas ini meraup dana segar sebesar Rp 6 triliun setelah merampungkan proses penerbitan obligasi pada 16 Juni lalu. 

Tak mau ketinggalan, BRI juga ingin kembali menerbitkan obligasi sebesar Rp 5 triliun pada paruh kedua tahun ini. Sebelumnya, BRI sudah merilis obligasi Rp 4,6 triliun pada kuartal IV tahun lalu dan sebesar Rp 5,1 triliun di awal tahun ini. Semuanya bagian dari obligasi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai total Rp 20 triliun.

Wakil Direktur BRI Sunarso menyebut kondisi ekonomi yang sedang bagus merupakan waktu tepat untuk menerbitkan obligasi. "Peringkat utang kami juga baik. Dengan situasi seperti itu, kenapa tidak (menerbitkan obligasi)?" Namun, dia belum mau merinci waktu merealisasikan hajatan tersebut.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait