Hari Pertama Usai Libur Panjang Lebaran, IHSG dan Rupiah Perkasa

Laju positif IHSG seiring dengan rilis data inflasi Juni yang diperkirakan terkendali.
Martha Ruth Thertina
3 Juli 2017, 10:30
IHSG DITUTUP MENGUAT 18,69 POIN
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan perdana Senin (3/7), usai libur panjang Lebaran. Indeks berada di level 5.846 atau naik 0,29 persen dari rekor tertinggi yang dicapai pada penutupan perdagangan Kamis (23/6). Di sisi lain rupiah menguat 0,14 persen ke level 13.329 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Indosurya Mandiri Sekuritas William Surya Wijaya memprediksi indeks bakal ditutup menguat pada perdagangan di awal Semester I ini. Hal itu seiring dengan data inflasi Juni yang bakal dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Prediksi dia, IHSG bakal bergerak di rentang 5.752-5.847. 

“Rilis data perekonomian inflasi hari ini diperkirakan akan terlansir dalam kondisi terkendali, sehingga dapat menunjukkan bahwa kondisi perekonomian memang berada dalam kondisi stabil, sehingga tingkat kepercayaan investor dapat semakin bertumbuh untuk berinvestasi dalam pasar modal Indonesia,” kata William dalam kajian tertulis yang diterima Katadata, Senin (3/7). (Baca juga: Bursa Asia Tumbang, IHSG Cetak Rekor Tertinggi Jelang Libur Lebaran)

Di sisi lain, tim analis OSO Securities justru memprediksi indeks akan bergerak terbatas dengan kecendrungan melemah pada perdagangan perdana ini di tengah penantian rilis tingkat inflasi. “Indeks diperkirakan bergerak di kisaran 5.786-5.878,” demikian tertulis dalam kajiannya.

Advertisement

Di sisi lain, mayoritas indeks di bursa Asia melemah pada Senin pagi. Hal itu tercermin dari MSCI AC Asia Pacific yang turun 0,67 persen. Sementara itu, indeks utama di bursa Asia bergerak mixed. Nikkei 225 dan Topix naik 0,18 persen dan 0,14 persen, sedangkan indeks Hang Seng di Hong Kong dan CSI 300 di Tiongkok turun masing-masing 0,16 persen dan 0,78 persen. (Baca juga: Saham Teknologi di Bursa Asia dan Amerika Berjatuhan)

Adapun, nilai tukar mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS, meski penguatannya tipis tidak sampai 0,2 persen. Di sisi lain, dolar Singapura, won Korea, yen Tiongkok, ringgit Malaysia, dan bath Thailand melemah kurang dari 0,1 persen.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait