Saham Teknologi di Bursa Asia dan Amerika Berjatuhan

Investor diduga melakukan aksi ambil untung (profit taking) lantaran kinerja saham di sektor teknologi tercatat paling baik di 2017.
Martha Ruth Thertina
30 Juni 2017, 14:09
bursa saham new york
ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly

Indeks utama di bursa saham Asia berguguran pada perdagangan Jumat (30/6). CNBC melaporkan, tekanan terjadi lantaran investor melepas saham-saham teknologi. Kondisi serupa terjadi di bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street sehari sebelumnya. 

Indeks Nikkei 225 dan Topix di Jepang melorot masing-masing 1,19 persen dan 1,01 persen. Sementara itu indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,27 persen. Indeks S&P/ASX 200 di Australia juga anjlok 1,55 persen.

Indeks di bursa saham Hong Kong juga melemah seiring kunjungan Presiden Xi Jinping ke Hong Kong untuk memperingati 20 tahun kembalinya Hong Kong ke kekuasaan Tiongkok. Indeks Hang Seng turun 0,85 persen, sedangkan indeks CSI 300 di Tiongkok turun 0,25 persen.

Saham-saham teknologi tercatat anjlok di bursa saham Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Di Jepang, saham Nintendo jatuh 3,33 persen dan Yahoo Jepang turun 1,21 persen. Sedangkan di Taiwan, saham Hon Hai turun 2,1 persen.

Advertisement

Di Korea Selatan, saham teknologi bergerak mixed. Samsung Elektronics turun 1,21 persen dan SK Hynix jatuh 1,75 persen, tapi perusahaan internet Kakao naik 0,2 persen.

Kejatuhan saham-saham teknologi di bursa Asia terjadi setelah saham-saham teknologi besar berjatuhan di bursa Wall Street sehari sebelumnya. Saham Advanced Micro Devices jatuh 4,8 persen, Lam Research turun 3,7 persen, dan saham induk usaha Google yaitu Alphabet juga turun 2,4 persen. (Baca juga: Google Curang, Eropa Jatuhkan Denda Tertinggi Rp 36 Triliun)

Saham Facebook dan Apple juga merosot masing-masing 1,4 persen and 1,5 persen. Kejatuhan tersebut membuat indeks utama di bursa AS tertekan. Nasdaq Composite turun 1,44 persen, S&P 500 turun 0,86 persen, dan Indeks Dow Jones Industrial turun 0,78 persen.

Investor diduga melakukan aksi ambil untung (profit taking) lantaran saham di sektor teknologi tercatat berkinerja paling baik di 2017 dengan kenaikan lebih dari 15 persen. Namun, dalam sebulan belakangan telah turun nyaris 2 persen. “Ini betul-betul hanya pembalikan,” kata Senior Manager Portofolio di Globalt seperti dikutip CNBC.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait