BI: Dana Asing Masuk Rp 122 Triliun Didukung Peringkat S&P

Kuatnya aliran masuk dana asing di antaranya disokong oleh peringkat layak investasi dari lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P).
Desy Setyowati
16 Juni 2017, 20:58
Dolar
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk dana asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp 122 triliun hingga pekan lalu. Jumlah tersebut naik 58 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 77 triliun.

Besarnya minat investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia juga telah membuat imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun juga menurun dari kisaran 7-8 persen di awal tahun menjadi 6,8 persen. “Kondisi ini baik,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (16/6).

Menurut dia, kuatnya aliran masuk dana asing di antaranya disokong oleh peringkat layak investasi dari lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P). Peringkat layak investasi menunjukkan risiko gagal bayar utang pemerintah lebih rendah.

Seiring dengan hal itu, Credit Default Swap yang merupakan cerminan risiko di Indonesia telah menurun dari 1,57 persen menjadi 1,17 persen. (Baca juga: Bunga The Fed Naik, Investor Asing Jual Saham di Bursa Indonesia)

Agus menambahkan, kondisi perekonomian Indonesia dalam kondisi baik. Ia pun berharap pemulihan ekonomi terus berjalan. Sejauh ini, yang menjadi tantangan perekonomian yakni konsolidasi perbankan dan korporasi yang berlanjut. Padahal, BI berharap perbankan dan korporasi bisa mulai berekspansi tahun ini.

"Kami lihat bank dan korporasi belum ekspansi, jadi kami belum lihat pertumbuhan kredit belum membaik," ujarnya. Meski begitu, kinerja keuangan mayoritas korporasi menunjukkan perbaikan yang dilihat dari neraca keuangan dan kemampuan membayar utang yang membaik. Alhasil, bank diharapkan bisa segera mengakhiri konsolidasinya.

Di sisi lain, pembiayaan dari pasar modal tercatat meningkat. Hal tersebut tampak dari besarnya minat korporasi untuk melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Officer/IPO) dan penerbitan surat utang (obligasi). "Ini tanda ke depan akan ada pemulihan," ujar dia.

Ia pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,17 persen atau lebih tinggi dibanding tahun lalu yang sebesar 5,02 persen.

Video Pilihan

Artikel Terkait