BI Prediksi Rupiah Stabil Berkisar 13 Ribu Disokong Investasi Asing

Desy Setyowati
6 Juni 2017, 21:15
agus martowardojo
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) memperkirakan, rata-rata nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp 13.300-Rp 13.600 per dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini. Proyeksi tersebut sudah memperhitungkan tekanan nilai tukar yang mungkin terjadi bila bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan lagi bunga dananya (Fed Fund Rate) sebanyak dua kali tahun ini.

Gubernur BI Agus DW. Martowardojo mengungkapkan proyeksi tersebut juga dengan mempertimbangkan penguatan nilai tukar seiring dengan derasnya arus masuk dana asing. Rupiah tercatat menguat 1,27 persen ke posisi Rp 13.304 per dolar AS sepanjang Januari hingga 2 Juni lalu. "Rupiah sepanjang 2017 bergerak stabil," kata Agus saat Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/6).

Menurut Agus, derasnya aliran masuk dana asing juga disokong oleh proyeksi positif lembaga pemeringkat internasional terhadap peringkat utang luar negeri Indonesia.

Sebelumnya, Fitch Ratings dan Moody’s Investors Service memberikan proyeksi positif terhadap peringkat utang Indonesia yang telah berada di level layak investasi (investment grade). Sementara itu, lembaga pemeringkat lainnya yaitu Standard and Poor's (S&P) baru saja memberikan peringkat layak investasi untuk Indonesia.

Kondisi ini diharapkan terus mendorong aliran masuk investasi asing. Meski begitu, ia menekankan, Indonesia masih harus mewaspadai rencana bank sentral AS untuk menaikkan bunga dananya. "Dari sisi global yang harus diwaspadai kenaikan Fed Rate dan turunnya neraca keuangan The Fed (bank sentral AS)," kata dia. (Baca juga: Harga Minyak Hingga Investasi Akan Terkena Imbas Krisis Qatar)

Adapun tahun depan, ia memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah Rp 13.400-Rp 13.700 per dolar AS. Proyeksi tersebut lebih positif dibandingkan dengan proyeksi pemerintah yang berkisar Rp 13.500-Rp 13.800 per dolar AS. Menurut dia, nilai tukar rupiah tersebut disokong oleh kondisi perekonomian yang membaik. (Baca juga: Survei 5 Kota, Pungutan Liar Masih Hambat Investasi di Daerah

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan likuiditas global berisiko menurun tahun depan. Hal tersebut seiring dengan rencana normalisasi kebijakan moneter oleh sejumlah bank sentral. Kondisi tersebut bisa mempengaruhi aliran dana asing dan nilai tukar rupiah.

"Kami lihat likuiditas global akan sedikit tertekan sehingga akan memberi sentimen pada arus modal. Namun, Indonesia dengan investasi dan konsistensi dari makro ekonomi dan kebijakan reformasi akan memberi daya tarik positif,” ujar dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait