BI Proyeksi Ekonomi Tahun Depan Tumbuh Paling Tinggi 5,5 Persen

Desy Setyowati
6 Juni 2017, 19:31
Pertumbuhan Ekonomi
Arief Kamaludin|KATADATA
Pembangunan gedung perkantoran di Jakarta.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya akan berada di kisaran 5,1-5,5 persen tahun depan. Proyeksi tersebut di bawah kisaran target pemerintah yaitu 5,4-6,1 persen. Meski begitu, proyeksi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan target tahun ini yang sebesar 5,1 persen.

"Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2018 sebesar 5,1-5,5 persen. lni lebih tinggi dari kisaran ekonomi 2017. Proyeksi kami ini masih searah dengan yang diajukan pemerintah 5,4-6,1 persen," kata Gubernur BI Agus DW. Martowardojo saat rapat dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR, Senin (6/6).

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tahun depan akan ditopang permintaan domestik yang terdongkrak oleh meningkatnya investasi. Saat ini, menurut dia, peningkatan investasi bangunan sudah mulai terasa. Ke depan, ia yakin investasi nonbangunan juga akan meningkat.

Adapun, peningkatan investasi tersebut diklaim seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan pembangunan infrastruktur dan memperbaiki iklim investasi melalui penerbitan sederet paket kebijakan ekonomi. (Baca juga: DPR Kritisi Asumsi Makro 2018, Pertumbuhan Ekonomi Terlalu Tinggi)

Ekspansi yang dilakukan perbankan dan korporasi nonbank juga diyakini bakal turut memacu ekonomi tahun depan. Begitu juga dengan konsumsi rumah tangga yang kuat. Kuatnya konsumsi seiring dengan inflasi yang bakal dijaga di kisaran yang cukup rendah yaitu 2,5-4,5 persen, tahun depan.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diproyeksi bakal sedikit menurun lantaran harga komoditas sumber daya alam (SDA) pada tahun depan diproyeksi lebih rendah dibanding tahun ini. Menurut dia, peningkatan ekonomi global tak lantas meningkatkan permintaan komoditas. 

"Dari sisi global, kami perkirakan pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 3,6 persen lebih tinggi dari perkiraan 2017 sebesar 3,5 persen. Ini diharapkan bisa berdampak positif bagi peningkatan ekspor 2018. Meskipun tidak sebesar 2017 akibat harga komoditas relatif terbatas," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi harus didorong lebih tinggi untuk menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kemakmuran rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga diyakini sebagai kunci untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan kesenjangan. (Baca juga: Sri Mulyani: Sejak 2013 Pertumbuhan Ekonomi Sulit Kurangi Kemiskinan

Menurut dia, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4-6,1 persen tahun depan, konsumsi rumah tangga harus dijaga tumbuh di kisaran 5,4 persen. Caranya, melalui peningkatan kesempatan kerja, menjaga inflasi yang rendah, dan mendukung belanja sosial.

Di sisi lain, investasi harus digenjot untuk tumbuh lebih tinggi. Bila tahun ini investasi ditarget tumbuh 6,1 persen, maka tahun depan investasi ditarget tumbuh 8 persen. Langkah utamanya yakni dengan memastikan keberlanjutan belanja infrastruktur pemerintah serta meningkatkan partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta dalam pembangunan infrastruktur.

Selain itu, pemerintah juga akan mengoptimalkan sumber-sumber pembiayaan investasi di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah juga akan terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi. Pertumbuhan ekonomi global yang membaik juga diharapkan bakal mendorong ekspor Indonesia. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait