Tersulut Belanja Ramadan dan Bansos, Ekonomi Kuartal II Diramal Naik

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa mencapai 5-5,4 persen pada kuartal II, atau meningkat dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,93 persen.
Desy Setyowati
31 Mei 2017, 10:46
Belanja ritel
Arief Kamaludin | Katadata

Tim ekonom Bank Mandiri meramalkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1 persen pada kuartal II 2017 atau menguat dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 5,01 persen. Penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga sepanjang Ramadan dan Idul Fitri.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Hermanto Gunawan memperkirakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa mencapai 5-5,4 persen pada kuartal II, atau meningkat dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,93 persen, dan periode sama tahun lalu yang sebesar 5,04 persen.  

"Kuartal II, taksiran saya (pertumbuhan konsumsi rumah tangga) sih bisa lima (persen) atau lebih, tapi enggak sampai 5,5 persen," kata dia di sela-sela acara buka bersama Bank Mandiri di kantornya, Jakarta, Selasa (31/5). 

Dia menyebutkan, ada dua faktor pendorong konsumsi rumah tangga pada kuartal II ini. Pertama, momentum Ramadan dan Idul Fitri yang tergabung di kuartal II, berbeda dengan tahun lalu yang terbagi antara kuartal II dan III. Kedua, mulai berdampaknya bantuan sosial (bansos) terhadap daya beli masyarakat berpendapatan rendah.

"Banyak program pemerintah itu yang sosial assistance (pendampingan sosial) menyentuh lapisan terbawah. Itu berdampak ke konsumsi rumah tangga," tutur dia. Meski begitu, ia mengakui, dampaknya terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional tidak terlalu signifikan. (Baca juga: Bank Dunia Kucurkan Pinjaman Rp 2,7 Triliun untuk Perluas Bansos)

Di sisi lain, dia melihat, daya beli dari kelompok masyarakat yang tidak terlalu miskin justru belum menunjukkan peningkatan. Hal itu terlihat dari penjualan ritel seperti Ramayana – yang segmentasinya kelas menengah ke bawah – hanya tumbuh 1,8 persen per Maret 2017. Bahkan, penjualan motor terkontraksi 15,9 persen, lebih dalam dibanding periode sama tahun lalu.

Sebelumnya, pemerintah berharap peningkatan harga dan permintaan komoditas sumber daya alam (SDA) bisa mendongkrak konsumsi rumah tangga, terutama di daerah-daerah penghasil komoditas tersebut. Adapun, harga komoditas tercatat sudah meningkat sejak November tahun lalu. (Baca juga: Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi 2017 Bisa Capai 5,3 Persen)

Kepala Ekonom Bank Mandiri Bidang Riset Industri dan Wilayah Dendi Ramdani mencatat volume ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) tumbuh 8,9 persen per April 2017, membaik dibanding periode sama tahun lalu yang terkontraksi 14 persen. Melihat kinerja positif ekspor CPO tersebut, semestinya penghasilan masyarakat khususnya di Kalimantan mengalami peningkatan.

Tahun ini, Dendi memperkirakan harga komoditas minyak mentah juga bakal meningkat ke kisaran US$ 55-US$ 60 per barel dan CPO US$ 650 per ton. Sedangkan komoditas lainnya, seperti harga batubara dan karet diproyeksikan sebesar US$ 70 per ton dan US$ 2 per kilogram. Selanjutnya, harga nikel diperkirakan sebesar US$ 10.000-US$ 10.500 per ton, serta tembaga US$ 4.850 per ton.

Menurut Anton, dampak kenaikan harga komoditas terhadap daya beli masyarakat memang tidak bisa langsung terlihat, karena prosesnya panjang. Saat ini, dampak kenaikan harga komoditas baru dirasakan perusahaan di sektor pertambangan. Hal tersebut tampak dari sektor alat berat yang penjualannya tumbuh 107,3 persen per Maret 2017.

Setelah itu, ia memprediksi dampak kenaikan harga komoditas baru menjalar ke penghasilan dan daya beli masyarakat. Hal tersebut bakal tercermin dari peningkatan kinerja sektor perdagangan. “Saya kira sih Semester II sudah mulai terasa," ujar dia.

Video Pilihan

Artikel Terkait