Sukuk Global Laris, Kelebihan Permintaan Investor Capai 4 Kali

Pemerintah merencanakan penerbitan empat surat berharga negara (SBN) global untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.
Desy Setyowati
24 Maret 2017, 19:50
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Pemerintah baru saja melelang surat berharga negara (SBN) berupa surat utang syariah (sukuk) global berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) senilai lebih dari US$ 2 miliar atau Rp 26,6 triliun. Bank Indonesia (BI) menyebut ada kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga empat kali.

"Oversubscribe sampai empat kali dengan imbal hasil (yield) yang lebih rendah dibanding Desember 2016," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (24/3).

Pada Desember tahun lalu, pemerintah memang tercatat menerbitkan surat utang negara (SUN) global senilai US$ 3,5 miliar atau setara Rp 47 triliun. Ketika itu, SUN mengalami kelebihan permintaan sebesar 3,42 kali. (Baca juga: BI Ramal Dana Asing di Saham dan Obligasi Tergerus Kenaikan Bunga Fed)

Yield SUN juga tercatat turun cukup besar dari patokan harga awal (initial price guidance). Yield SUN tenor 5 tahun sebesar 3,75 persen, yield SUN tenor 10 tahun sebesar 4,4 persen, dan yield SUN bertenor 30 tahun sebesar 5,3 persen.

Menurut Mirza, tingginya permintaan pasar menunjukkan persepsi positif investor terhadap perekonomian Indonesia. Persepsi tersebut tetap bertahan meski bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), telah menaikkan bunga dananya (Fed Fund Rate) pada pertengahan Maret lalu. (Baca juga: Indonesia Tetap Diminati Asing meski S&P Tak Naikkan Peringkat)

Adapun, pemerintah merencanakan penerbitan empat SBN global untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini. Satu di antaranya telah diterbitkan pada Desember lalu yaitu SUN senilai US$ 3,5 miliar sebagai pembiayaan awal (prefunding) belanja pemerintah. Kemudian, disusul dengan penerbitan sukuk global pada Maret ini yang sebesar lebih dari US$ 2 miliar.

Dengan demikian, tersisa dua SBN lagi yang akan diterbitkan pemerintah. SBN yang dimaksud yaitu SBN berdenominasi Euro (Euro Bond) dan Yen (Samurai Bond). “Sisanya ini kami rencanakan bisa (diterbitkan) di Semester I kalau semuanya lancar,” ujar Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Loto Srianita Ginting, beberapa waktu lalu.

Tahun ini, perolehan dana dari penerbitan SBN gross sebanyak Rp 597 triliun. Dari jumlah tersebut, perolehan dari penerbitan SBN valas ditarget sebesar 25 persen atau sekitar Rp 149,25 triliun. (Baca juga: Sri Mulyani: Investor Amerika Lebih Minati Surat Utang Indonesia)

Adapun, penerbitan SBN untuk prefunding tahun depan belum diagendakan pemerintah. Menurut Loto, pihaknya belum mengkaji kebutuhan tersebut. “Kalau ada prefunding ya kami lakukan. Kalau enggak, ya (baru terbitkan SBN valas lagi) tahun depan,” tutur Loto.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait