Butuh Dana, Tiga Bank Terbitkan Sertifikat Deposito Rp 5,4 Triliun

Penerbitan NCD sudah mencapai Rp 20,25 triliun hingga Maret ini. Jauh meningkat dibanding dua tahun sebelumnya yang baru sebesar Rp 14 triliun.
Desy Setyowati
23 Maret 2017, 21:56
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) mencatat, sebanyak tiga bank bakal menerbitkan sertifikat deposito (Negotiable Certificate of Deposit/NCD) senilai Rp 5,4 triliun dalam waktu dekat. NCD merupakan salah satu instrumen alternatif pendanaan bank, di luar tabungan, giro, dan deposito.

Kepala Departemen Pengembangan Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah mengatakan, penerbitan NCD memang bakal cenderung semakin tinggi ke depan. Apalagi, pasca berlakunya Peraturan BI (PBI) Nomor 19/2/PBI/2017 mengenai transaksi NCD pada Juli mendatang.

“Ada Rp 5,4 triliun yang kami pantau in the pipe line dalam jangka pendek. Tapi, setahun akan lebih besar dari itu,” kata Nanang dalam acara Bincang-Bincang Media (BBM) di Gedung BI, Jakarta, Kamis (23/3). Terlebih, ada 106 bank yang beroperasi di Indonesia. (Baca juga: BI Rilis Aturan Sertifikat Deposito agar Bank Mudah Cari Dana)

BI mencatat, penerbitan NCD sudah mencapai Rp 20,25 triliun hingga Maret ini. Jauh meningkat dibanding dua tahun sebelumnya yang baru sebesar Rp 14 triliun. Meski begitu, NCD yang ditransaksikan baru sebesar Rp 5 miliar.

Menurut Nanang, minimnya transaksi NCD pun lantaran selama ini tidak ada payung hukum yang mengatur soal itu. “Kalau enggak ada aturannya, mereka khawatir. Dengan PBI, ada kepastian bagi pelaku pasar untuk bertransaksi karena ada rambu-rambunya,” ucapnya. 

Sejauh ini, NCD yang diterbitkan berdenominasi rupiah dan rata-rata bertenor setahun. Adapun, bank masih menjadi pemilik terbesar instrumen ini yakni 92 persen dari total NCD, sedangkan yang dimiliki dana pensiun hanya enam persennya saja.

Nanang menjelaskan, ke depan, bila makin banyak NCD ditransaksikan maka instrumen tersebut bisa menjadi alternatif pendanaan murah bagi bank. Selain itu, bank juga bisa lebih leluasa memberikan kredit untuk proyek yang berjangka lebih panjang karena tenor NCD bisa mencapai tiga tahun.

Dengan adanya aturan ini, dia yakin minat beli dana pensiun, asuransi, korporasi ataupun investor asing terhadap NCD juga akan meningkat. Apalagi, bunga yang ditawarkan juga menarik, yakni di kisaran 5-8 persen.

“NCD ini akan jadi underlying aset reksadana yang dikelola manajer investasi. Dengan adanya aturan ini akan ada potensi penambahan instrumen bagi perusahaan asuransi dan dana pensiun,” ujar Nanang.

Instrumen NCD juga bisa dimanfaatkan oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk memperkuat pendanaan. Pasalnya, selama ini sumber pendanan terbesarnya masih dari pemerintah daerah (Pemda), yang sewaktu-waktu bisa ditarik untuk pembangunan infrastruktur ataupun keperluan lainnya. 

“BPD penting terbitkan NCD karena selama ini sumber dananya dari Pemda. Kalau dia terbitkan NCD akan ada diversifikasi funding (pendanaan) jadi akan memperbaiki maturity profilnya (profil jatuh tempo dari sumber dananya),” kata Nanang. (Baca juga: Bank Kecil Optimistis Pertumbuhan Kredit 2017 di Atas 15 Persen)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait