IHSG Tergelincir di Tengah Penguatan Indeks Saham Dunia

Investor asing masih membukukan pembelian bersih Rp 238 miliar di pasar reguler. Tapi, di seluruh pasar, tercatat penjualan bersih Rp 1,14 triliun sejak awal tahun ini.
Desy Setyowati
10 Maret 2017, 21:17
Bursa saham
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,22 persen ke level 5.390 pada perdagangan, Jumat (10/3). Koreksi tersebut berkebalikan dengan mayoritas indeks saham dunia yang justru naik menjelang keputusan suku bunga dana bank sentral Amerika Serikat (AS), Fed Fund Rate, pekan depan.

IHSG sempat naik ke level 5.414 saat pembukaan perdagangan, namun tidak lama kemudian merosot ke bawah kisaran 5.400. Sebanyak tujuh dari total 10 indeks sektoral melemah, dipimpin sektor tambang yang turun 2,15 persen dan aneka industri minus 1,22 persen.

Meski begitu, mengacu pada data RTI, investor asing masih membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 238 miliar di pasar reguler. Adapun, jika dihitung sejak awal tahun, pembelian bersih di pasar reguler mencapai Rp 2,3 triliun. Namun, secara keseluruhan (all market) telah terjadi penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 1,14 triliun sepanjang 2017.

Berkebalikan dengan laju IHSG, mayoritas indeks saham dunia justru menguat. Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 1,48 persen, indeks Kospi di Korea Selatan menguat 0,30 persen, dan Hang Seng di Hong Kong terapresiasi 0,29 persen. Sebagian besar indeks saham di Eropa juga menguat.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pasar memang tengah bergejolak (volatile) lantaran menunggu dua data penting dari Amerika Serikat (AS). Pertama, data jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja di AS atau Non-Farm Payrolls. Selain itu, pasar juga memantau rapat Komite Pasar Federal Terbuka (Federal Open Market Committe/FOMC) yang akan menetapkan kebijakan bunga dana bank sentral AS (Fed Fund Rate), pekan depan.

"Data (upah tenaga kerja) ini yang bisa membuat reaksi pasar sangat volatile, ditambah dengan event pengumuman kenaikan suku bunga Fed 16 Maret dini hari yang bisa membuat perbedaan besar pada nilai dolar AS," kata dia kepada Katadata, Jumat (10/3). (Baca juga: Potensi Kenaikan Bunga Dana Amerika Pukul Harga Emas Dunia)

Senada dengan Ariston, Analis dari Binaarta Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, fluktuasi pasar masih akan berlanjut. “(Karena) fifty-fifty (peluangnya 50:50) antara pasti enggak pasti naik atau tetap,” ujarnya.

Meski indeks lokal turun, rupiah tercatat mengalami penguatan. Rupiah ditutup menguat 0,1 persen ke level 13.375 per dolar AS. Ariston meramalkan, rupiah berpotensi melemah ke area Rp 13.500 per dolar AS. Namun, ia yakin rupiah bisa kembali ke posisi di bawah Rp 13.400 per dolar AS. 

"Resisten terdekat Rp 13.450 per dolar AS , next Rp 13.530 per dolar AS. Support terdekat di Rp 13.320 per dolar AS, next Rp 13.250 per dolar AS," ujar dia. (Baca juga: Apindo Yakin Perusahaan Bisa Hadapi Risiko Rugi Kurs Utang Valas)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait