Bankir Prediksi Pertumbuhan Kredit Masih Terganjal Kredit Macet

Sebanyak 69 persen bankir yang menjadi responden memperkirakan rasio kredit macet (NPL) akan turun. “Namun, NPL tetap dianggap sebagai tantangan terbesar bagi pertumbuhan kredit.”
Desy Setyowati
1 Maret 2017, 15:52
Bank uang
Arief Kamaludin|KATADATA

Optimisme bankir terkait rasio kredit bermasalah alias Non Performing Loan (NPL) membaik tahun ini. Namun, mayoritas bankir memprediksi NPL masih akan menghambat pertumbuhan kredit. Hal tersebut mengacu pada hasil survei yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik PricewaterhouseCoopers (PwC).

PwC Indonesia Financial and Services Industry Leader David Wake menyampaikan, dari survei yang dilakukannya diketahui bahwa semakin banyak bankir yang meyakini tekanan NPL bakal mereda, tahun ini. "Dua tahun terakhir (perbankan) menunjukkan peningkatan kerugian kredit yang terus menerus. Tahun ini ada pembalikan, setengah dari responden memperkirakan NPL akan menurun," ujar David dalam acara PwC Banking Survey di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (1/3).

PwC merinci sebanyak 69 persen bankir yang menjadi responden memperkirakan NPL akan turun. Sedangkan sisanya meyakini NPL masih akan sama dengan tahun lalu. Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat NPL sempat bertengger di level 3 persenan mulai Juni hingga November 2016. Namun, pada Desember 2016, NPL membaik menjadi sebesar 2,93 persen gross dan 1,24 persen nett. (Baca juga: Tertekan Kredit Bermasalah, Laba Bank-Bank Besar Anjlok)

Seiring dengan perbaikan NPL, separuh responden pun memperkirakan kredit berpeluang tumbuh di atas 10 persen. Prediksi tersebut lebih tinggi dibanding realisasi tahun lalu yang sebesar 7,87 persen. Prediksi itu juga sejalan dengan target pertumbuhan kredit yang disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu 10-15 persen.

Menurut David, optimisme ini didorong oleh meningkatnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah yang diharapkan akan meningkatkan permintaan kredit. Meski begitu, separuh reponden lainnya menilai NPL masih akan menghambat pertumbuhan kredit. "Meski bankir melihat ada penurunan, namun NPL tetap dianggap sebagai tantangan terbesar bagi pertumbuhan kredit," ujarnya. (Baca juga: Kredit Masih Lemah, Pemerintah Didorong Turun Tangan)

Hasil survei PwC juga menunjukkan bahwa sebagian besar bankir merasa industri di Indonesia cukup siap menghadapi risiko-risiko yang teridentifikasi. Sebanyak lima persen responden bahkan menyatakan sangat siap. Bank yang menyatakan siap mayoritas yang berada pada Bank Umum Ketegori Usaha (BUKU) 4 atau yang bermodal inti di atas Rp 30 triliun.

"Kesiapan ini karena dua pertiga bankir merasa sudah memiliki strategi manajemen risiko yang jelas," ujar David.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait